Dalam Istikharah Cinta



Dari lembaran-lembaran  foto, hati ini dalam diam memperhatikanmu,
Fitrah cinta dalam diri tak mampu terbendung, seakan terpaut oleh nafsu birahi.

Masih dengan kamera usang miliknya, Hafiz menggantungkan mimpinya untuk bisa melangkahkan kaki ke negeri kafah Al-Azhar Mesir. Bangku taman dengan pohon akasia disampingnya yang selalu menemaninya mencari objek yang memikat hatinya untuk di foto dan melengkapi koleksi hasil fotonya. Kali ini kebingungan menerpa dirinya, sejenak merenung sambil memikirkan objek apa lagi yang harus ia foto untuk perlombaan kali ini. “Perhiasan dunia” tema yang cukup sulit.
“Hei...Hafiz ,,sang pujangga nan elok rupanya. Kenapakah engkau meratapi hidup di bawah pohon dengan kamera usang mu ini” sentak faris mengejutkannya dari belakang. Kejahilan faris memang tidak bisa ia hindari, terlebih pula ia tinggal satu kamar dengan faris. Dengan kata-katanya setinggi langit, berharap orang yang mendengar nya menjadi luluh lantah karenanya. Termasuk para perempuan di kampus yang selalu menjadi sasaran dari gombalan puitis miliknya.
“Sudahlah.. aku tidak akan terpikat dengan kata-kata puitismu, di bandingkan dengan perempuan yang kau suguhkan dengan puisimu setiap hari. Lebih baik engkau mencari pekerjaan lain, seperti membersihkan kameraku ini.” Jawab hafiz dengan bijak sambil tertawa kecil. Masih dengan kamera usang peninggalan kakeknya ini, ia berusaha merawatnya sesering mungkin karena jika tidak impiannya itu akan tersangkut karena alasan kameranya yang rusak.
“Aku sedang bingung Ris, perlombaan sebentar lagi dan aku belum mendapatkan objek yang pas untuk pameran fotografi nanti” dengan nada cemas serta penuh bimbang.
“Jangan putus asa kawan karena aku yakin engkau pasti bisa. Tidak usah terlalu jauh mencari objek foto, di sekitar kampus ini juga banyak. Tergantung engkau bisa menemukan atau tidak.” Ujar faris.
“Tak biasanya kata-katamu sebijak ini, belajar dengan siapa kau” gurauan hafiz membuat hari itu penuh dengan gelak tawa mereka berdua.
Setelah kamera dibersihkan, ia mulai berkelana lagi kesana-kemari apa yang indah untuk ia ambil gambarnya. Sementara itu faris pergi ke kantin, hobi barunya sekarang memakan apa saja yang ia suka setelah hobi musik yang sangat mengganggu ketenangan Hafiz ketika malam hari dan  membuat ia sering tak bisa tidur.
Hafiz  mencoba pergi ke taman, siapa tahu ia menemukan sesuatu yang indah untuk ia foto. Hafiz meletakkan kamera di matanya dan menyorot objek, sambil memutar rol untuk mengecilkan dan membesarkan. Tiba-tiba kamera itu terhenti pada sosok perempuan yang tengah duduk di bangku taman. Beliau begitu anggun sekali, Hafiz seolah melihat bidadari surga turun ke bumi. Ia menjepretkan kameranya sekali, hasilnya sangat memuaskan dan sangat indah. Kemudian yang kedua kalinya,hasilnya semakin bagus. Tetapi wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari taman itu. Hafiz semakin penasaran dengan wanita itu, sangat misterius. Sepulang dari taman Hafiz masih saja memandangi hasil foto tadi, seolah terkena hipnotis oleh fotonya. Ia mencoba mencari tahu siapa nama gadis itu, dan keesokan harinya ia menanyakan hal itu kepada Faris.
“Ris, siapa nama gadis ini” menyodorkan kamera ke arah faris.
“Oh, ini Naura, lengkapnya Naura As-syifa dia satu angkatan dengan kita, eh...eh... kenapa kamu foto dia. Wah..wah jangan-jangan ada apa-apa nih. Jangan macam-macam Fiz” menunjuk ke arah Hafiz sambil memegang kamera.
“eh..eh jangan sembarangan ngomong kemarin waktu aku sedang di taman mencari objek untuk ku foto, tak sengaja kameraku tersorot padanya. Langsung saja ku ambil gambar, dan ternyata hasilnya sangat bagus.” Jawab Hafiz dengan terbata-bata, ia berusaha mencari-cari alasan yang pas agar Faris tak curiga padanya.
“Ya deh,,, percaya saja dengan pak Hafiz.” Sahut Faris kembali.
...
Gundah di hati tak sanggup lagi terbendung, rasa khusyuk itu hilang seketika.
Tatkala melihat betapa sempurnanya ciptaan Tuhan.
Menggelayuti hingga relung sanubari, menyimpan gelora cinta nan suci.
Wajah itu masih saja terbayang-bayang di ingatan hafiz, “Astagfirullah”sering kali terucap dari mulutnya. Bayangan itu masih saja menggelayuti pikiran Hafiz, gadis itu telah membuatnya tidak tenang. Ia semakin ingin tahu siapa sebenarnya gadis itu, penampilannya yang begitu menenangkan hati, senyumnya yang sungguh indah bak mawar yang sedang mekar di taman. Hingga menjelang pukul 15:10 Hafiz bergegas pergi ke masjid, ia tidak ingin bila perasaannya berlarut-larut. Hafiz memang mendisiplinkan dirinya untuk berangkat lebih awal sebelum adzan berkumandang di masjid.
Sementara itu Naura dan Meila seperti biasanya sore hari ia mengajar ngaji anak-anak mulai dari SD, SMP bahkan SMA. Naura memang gadis yang tidak hanya parasnya yang indah tetapi begitu pula dengan hatinya. Ditemani dengan Meila gadis cerewet yang sedang menjalani proses hijrahnya, sehingga ia mengikuti segala kegiatan Naura. Masjid masih lengang hanya ada sesosok pria yang sedang duduk di bagian depan. “subhanallah”kata itu yang selalu terucap dari mulut Naura bila melihat pria itu, selalu datang lebih awal sebelum adzan dikumandangkan. Alangkah indahnya bila  beliau yang menjadi imamnya kelak, urusan agama saja ia dahulukan bagaimana dengan urusan dunia. Pastinya lebih sempurna, dan khayalan itu kembali muncul kembali di pikiran Naura. Bunyi deru langkah kaki anak-anak dari depan terdengar,pertanda mereka sudah datang.
“Naura, bisa kita mulai mengajinya...hei.” Pertanyaan Melia tak dijawab Naura, ia masih membayangkan sosok pria yang sedang khusyuk berdzikir di bagian depan.
“Astagfirullahaladzim” sahut Naura dengan terkejut. Hal ini sungguh tidak bisa dibiarkan,membayangkan sesuatu yang sangat tidak pantas dan bila terjadi terus-menerus maka ini akan merugikan Naura sendiri.
 “Oh ya ...ayo kita mulai mengajinya” dengan Al-quran ditangannya ia memulai acara mengaji dengan diawali berdoa bersama. Sorotan mata naura masih berbinar-binar, seolah menandakan ia telah terhipnotis oleh sosok pria misterius itu. Pengajian hari itu dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah, Naura melihat pria itu menjadi imam shalat. “Astagfirullahaladzim” kalimat itu terucap lagi. Jangan sampai shalatnya menjadi tidak khusyuk hanya karena sosok pemuda itu, ia kembali memfokuskan dirinya. Usai shalat magrib naura dan meila kembali kerumah, jangan sampai ia terlalu lama berada di masjid ini. Jika tidak ia akan terus terpikir dengan sosok pemuda yang telah meluluhkan hatinya itu, Naura mencoba untuk berfikir lebih jernih. Ia tidak ingin perasaan yang tidak halal ini berlarut-larut nantinya.
“Naura, malam ini aku menginap di tempatmu ya, ada tugas kuliah yang aku tidak mengerti. Bisakah engkau mengajariku?” kata Meila
“Baiklah,selepas isya nanti silakan engkau datang ke rumahku. Inshaa Allah jika aku bisa aku akan mengajarimu”
“Terima kasih sahabatku, tunggu aku dirumah.”
“Mei, pemuda itu siapa?” tanya naura sambil menunjuk ke arah pemuda yang ia perhatikan sejak tadi.
“Oh itu namanya Hafiz , lengkapnya Muhammad Robi Al-Hafiz. dia satu kampus dengan kita, kenapa?” tanya meila kembali.
“Eem..oh enggak Cuma nanya aja” jawab Naura dengan terbata-bata.
“Ya sudah tunggu aku dirumah ya” sahut Meila sambil melambaikan tangannya.
Naura pulang dengan perasaan yang tidak karuan, bahkan senyuman kecilnya sebentar-sebentar keluar dari bibirnya. Sesampainya dirumah ia langsung menuju kamarnya, mengambil sebuah buku dari rak “DIARY NAURA”tangan lembutnya tergerak sendiri menulis diatas buku itu, ia curahkan segala perasaan yang ia alami saat itu dalam untaian kata pengharapan dalam hati.
“Ya tuhan fitrah cintaMu datang menghampiri hati ini, jangan biarkan fitrah ini membuatku jauh kepadaMu. Jangan biarkan cintaku kepada makhlukMu, lebih besar dari cintaku kepadaMu. Parasnya begitu menenangkan hati ini, tak sanggup diri ini menahan segala gelora hati. Bila ia yang engkau pilihkan ia sebagai jodohku, persatukan kami di dalam ikatan yang halal dan suci. Aku tidak ingin perasaan ini berlarut-larut di dalam sebuah ikatan yang tak kau ridhoi. Namanya akan selalu kulantunkan dalam setiap doa yang ku panjatkan. Bila ia bukan jodoh yang engkau pilihkan, hilangkanlah rasa yang salah ini dalam hati. Hamba hanya ingin meraih ridho dari cintaMu. Jauhkan hamba dari cinta yang salah.”
Teruntuk jodohku yang tersembunyi, MUHAMMAD ROBI AL-HAFIZ.
...
Satu hari lagi pameran fotografi akan diadakan, dan Hafiz masih bingung foto apa yang akan ia pamerkan. Ia teringat dengan satu foto kemarin, sosok perempuan berkerudung yang tengah duduk di taman. Ia akan mengumpulkan foto itu, apalagi temanya juga cocok “Perhiasan Dunia”.  Ia teringat dengan ceramah ustadz semalam sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita soleha dan ia telah menemukan perhiasan dunia itu. Bergegas ia mencetak foto itu dan mendaftarkan karyanya ke panitia lomba. Ia merasa sangat senang sekali, beruntung bisa dipertemukan dengan gadis itu. Setelah mendaftar ia kembali ke kelas, tak sengaja ia menemukan sebuah buku di jalan menuju kelas. Ia terkejut tulisan sampul depan buku tersebut bertuliskan “DIARY NAURA” ia melihat kanan dan kiri tak ada siapa-siapa dan langsung mengambil buku tersebut dan memasukannya ke dalam tas ranselnya. Dengan terburu-buru ia masuk kelas,  faris sudah menunggunya di bangku kelas.
“Pak Hafiz kemana aja, ditungguin dari tadi. Lama bener daftar gitu aja” ujar faris dengan ekspresinya yang menunjukan kekesalan.
“Maaf  Ris, tadi ada urusan sebentar. “ jawab Hafiz sambil menghampiri faris.
“Alesan, paling fotoin naura lagi ya kan.” Gurau faris
“Huss, apa-apaan sih. “ jawab Hafiz sentak wajahnya kemerahan dengan ekspresi malu-malu.
Selang beberapa hari akhirnya hasil pengumuman fotografi telah tiba. Bagi pemenang hasil fotonya akan di tempel di mading kampus. Ia melihat-lihat dan ternyata salah satu hasil fotonya ada di mading itu. Di satu sisi ia merasa sangat senang karena hasil fotonya menjadi salah satu nominasi yang tetapi di sisi lain Hafiz cemas, bagaimana reaksi Naura nanti ketika ia melihat fotonya terpajang di mading kampus pasti ia akan menjadi sangat bingung. Bagaimana fotonya bisa menjadi pemenang dalam lomba fotografi. Ia beranjak dari tempat itu dan langsung menuju rumah, ia tidak ingin jika Naura melihatnya disana.
Sambil memikirkan bagaimana nanti selanjutnya, bila Naura tahu jika Hafiz yang mengambil fotonya secara diam-diam. Di kamarnya inilah tempat semua mimpi-mimpi itu ia buat, sambil memandangi sekeliling kamar tidak sengaja ia melihat sebuah buku berwarna merah muda di atas mejanya. Ia lalu mengambilnya, perlahan jemarinya membuka kertas itu satu persatu tiba-tiba ia terhenti di salah satu tulisan tangan Naura. Ia membacanya, bola matanya bergerak ke kanan kekiri seakan tak sabar apa yang tertulis disana. Kata terakhir yang tertulis disana membuat bola mata Hafiz berkaca-kaca tertulis “Teruntuk jodohku yang  tersembunyi MUHAMMAD ROBI AL-HAFIZ”. Sentak jantungnya berdetak dengan begitu cepatnya, ia tidak menyangka gadis yang ia foto pada waktu itu ternyata telah diam-diam pula menyimpan perasaan yang sama kepadanya. Hatinya seakan terbang melayang, mengalahkan bunga yang sedang mekar di taman. Tetapi ia kembali teringat “Astagfirullah” ini benar-benar tidak baik, perasaan ini belum halal dan engkau telah berani-beraninya melanggar itu. Semua ini terjadi dengan tiba-tiba, ketidaksengajaan yang membawa berkah. Pikiran itu menghantui hingga larut malam, matanya sangat sulit untuk terpejam. Hingga kemudian matanya tak mampu lagi menahan rasa kantuk, Hafiz pun tertidur. Tengah malam ia terbangun, Bergegas mengambil wudhu dan kemudian shalat tahajud. Ia telah bersikap salah selama ini, mengharapkan cinta selain Allah. Di dalam doanya ia panjatkan
“Ya Allah ampuni aku, karena telah mengharapkan cinta selain engkau. Wahai dzat yang maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agamaMu. Jangan biarkan aku larut dalam cinta yang salah, tenangkanlah hatiku, tegarkanlah jiwaku. Engkau telah menciptakan bidadari dunia  yang sangat anggun, bila ia memang telah engkau tetapkan untukku. Persatukan kami dalam ketaatan kepadamu, bimbing aku untuk meraih ridhoMu.”
Lantunan ayat suci Al-quran terdengar begitu syahdu malam itu, kali ini Hafiz benar-benar terperangkap dalam cintanya sendiri. Hingga keesokan harinya,Hafiz pergi ke kampus dengan dihantui perasaan yang tidak karuan.
...
Perasaan ini telah terpaut pada hati yang lembut, terbalut dengan ketegaran iman
Teguh dalam satu pilihan, di separuh nafasku dalam mahabbah rindu
Naura masih berusaha mencari buku Diary nya, tetapi sejak tadi malam ia tidak menemukannya. Ia telah mencari kesana-kemari dan tidak ada. Ah,mungkin saja tertinggal di laci meja kelas, ia kemudian pergi menuju kelas. Dengan langkah cepat Naura berjalan cepat menuju kelas, tetapi langkahnya terhenti pada suatu foto di mading kampus. Ia sangat terkejut, bagaiman bisa fotonya tertempel disini dan terpilih sebagai nominasi foto terbaik. Ia mencari-cari siapa yang memasukan fotonya dalam perlombaan dan berani-berani nya orang itu mengambil fotonya secara diam-diam. Betapa terkejutnya Naura melihat tulisan bagian bawah foto “Picture Taken By : Muhammad Robi Al-Hafiz” hatinya tersentak begitu hebatnya. Ia tidak menyangka bila pria yang ia kagumi, juga diam-diam menyimpan perasaan padanya. Pikiran Naura semakin tidak karuan “ Astagfirullah” kalimat itu terucap kembali dari mulutnya, tiba-tiba dari samping ada seseorang yang menabraknya. Bukunya berjatuhan di lantai, ia membantu mengambilkan dan ketika melihat wajah pria itu Naura semakin terkejut ternyata pria itu adalah Hafiz. Pertemuan yang telah Allah rencanakan,beberapa menit yang lalu ia melihat namanya di foto dan kini berdiri di depan matanya. Hatinya berdetak sangat kencang, ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Em...em Maaf , maaf” Hafiz mengawali pembicaraan dengan gugup dalam hati. Keringat mulai bercucuran dari keningnya, ia tak kuasa menahan perasaannya.
“Oh em.. ya nggak apa-apa” Naura pun demikian. Sekelebat ia melihat buku berwarna merah muda di tangan Hafiz.
“Sekali lagi maaf ya, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum?” ujar Hafiz dengan terburu-buru.
“Waalaikumsalam, Em ... tunggu maaf boleh lihat buku nya “ ia menghentikan langkah Hafiz. Sambil menunjuk buku berwarna merah muda di tangan Hafiz.
“Em..em ini..ini “ Hafiz tak mampu lagi menyembunnyikan ini semua. Ia menyerahkan buku itu kepada Naura. “Maafkan aku ,, telah banyak  kesalahanku terhadap dirimu, aku menemukan buku ini di depan pintu kelas dan aku pun membawanya pulang dan tidak sengaja membacanya dan yang selanjutnya aku diam-diam mengambil fotomu dan ku masukkan ke perlombaan, engkau bisa marah kepadaku... aku akan menerimanya .” Hafiz kini pasrah, ia tidak mampu berkata-kata lagi. Ia akan menerima semua perkataan dari Naura, semua ini memang kesalahannya.
“Tidak perlu minta maaf, aku juga telah salah dalam hal ini”
 Hafiz sentak terkejut, mengapa Naura bilang seperti itu kepadanya.
            “Aku telah diam-diam memperhatikanmu, dan menyimpan rasa terhadapmu.”
            Sejenak mereka ssaling pandang, terlihat bola mata merek aberdua berbinar-binar. Naura kemudian mengedipkan matanya dan menundukkan kepalanya, pipinya sentak menjadi merah.
            Sejak saat itu, mereka menjadi sangat akrab. Tetapi komunikasi mereka tidak secara langsung tetapi melalui surat, hingga pada suatu ketika mereka harus dipisahkan. Setelah mereka wisuda, Hafiz dan Naura memilih jalannya masing-masing. Hafiz melanjutkan sekolah nya ke Al-azhar mesir dan mendalami dunia fotografi disana dengan beasiswa yang ia dapat, sedangkan Naura melanjutkan S2 nya ke vietnam, dan mendalami dunia kepenulisan yang ia geluti selama ini. Kisah mereka terhenti, hingga pada waktunya nanti Allah mempersatukan mereka kembali. Dengan cinta yang halal, dan bukan lagi perasaan yang saling menggantung antara keduanya.
“Istikharah cinta antara dua hati yang memilih untuk istiqomah dengan takdir sang pencipta. Mengalun indah dalam tali kasih, kekal abadi hingga akhir zaman. Dalam penantian saling menjaga hati, di separuh nafas terukir nama sang pengobat hati. Sang pencipta sebagai saksi, keteguhan dua hati yang tersembunyi dalam rangkaian takdir illahi. Beribu doa terpanjatkan, demi mengobati kerinduan hati dalam fitrah cinta dari sang pencipta”

Komentar