MISTERI DIBALIK PERSAHABATAN



Gubrak....!! Terdengar suara dari arah pintu masuk kelas, terlihat seorang anak laki-laki menabrak seseorang dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.
“Hei,,,kalau jalan hati-hati dong. Ngeliat pake mata jangan pake dengkul” vivi berkata dengan ketus sambil memegang lengannya yang lecet akibat terkena gesekan ketika jatuh ke lantai. Wajah itu masih saja seperti dulu dengan sikapnya yang tegas dan ketus. Anak laki-laki itu masih saja dengan santai berjalan melewati vivi  yang sedang mengaduh kesakitan dan tergeletak di lantai. Anak itu tak menghiraukannya dengan earphone yang ada di kepala dan jaket hitam yang dipakai menambah aura misteri dibalik kaca mata hitam yang ia pakai.
Walaupun anak itu tak menghiraukan, tapi vivi masih saja bersikeras memanggilnya.
“Hei ...anak sombong dasar nggak punya perasaan... (sok keren) “gumam vivi dengan perkataan pedasnya.
Anak laki-laki itu mendengar perkataannya, ia kemudian berbalik ke arah vivi.
“Apa katamu tadi,,,ha,, ayo ulangi” sambil menendang buku vivi yang terjatuh di lantai. “Sok keren...misterius... nggak punya perasaan” sahut vivi.
“He... jangan sok hebat ya disini.. anak kampung aja belagu, sudah pergi sana.” Ujar anak itu sambil mendorong vivi hingga tersungkur ke lantai. Ia pun meninggalkan vivi tanpa memberi bantuan sedikitpun kepada vivi.
“sudah nabrak, nggak bantuin, nggak minta maaf lagi,dasar ngeselin” ujar vivi di dalam hatinya.
Tatapan itu masih sama, tajam, misterius. Vivi masuk ke dalam kelas dengan menyimpan rasa kesal di hati. Mengapa ia harus di pertemukan dengan orang yang menyebalkan seperti dia. Tidak lama kemudian dosen masuk ke dalam kelas.
“Selamat pagi anak-anak”
Sentak kelas menjadi sunyi, tak menjawab pertanyaan. Beberapa anak-anak terburu-buru membenahi kursi, ada pula yang tengah duduk di atas meja sambil mengobrol. Sekejap kegiatan di kelas terhenti seketika. Vivi duduk di bangku paling depan, betapa terkejutnya ia ketika menoleh ke belakang, tatapan itu hadir kembali.   
“Astaga, anak itu lagi, kenapa ia bisa ada disini dan satu kelas denganku.” Gumam vivi di dalam hati. Anak laki-laki itu masih saja dengan sikapnya yang acuh tak acuh, earphonenya masih terpasang di kepalanya, ia benar-benar tak menghiraukan kedatangan dosen. “Huuh.. memang dia siapa, dasar belagu”.vivi kembali melontarkan kata-kata ketus dari mulutnya. Hingga jam pelajaran usai vivi masih saja menyimpan tatapan tajam ke arah anak laki-laki itu.
Di sisi lain ketika kelas usai kevin berjalan melewati kantin “Hei..KEVIN..” tiba-tiba terdengar panggilan dari arah kanan kantin, ternyata itu zian sahabat karib kevin. Sebenarnya mereka tidak terlalu akrab hanya saja keakraban mereka terbentuk karena kecintaan mereka terhadap games. Sama dengan kevin, zian juga salah satu anak yang tergila-gila dengan games dan semenjak itulah keakraban mereka terjalin. Pernah juga mereka bermain bersama ketika hari libur di rumah kevin, mereka bermain sampai tak mengenal waktu dimulai dari pagi hingga sore menjelang.
“Hari ini kita jadi main games bareng, udah lama kita ngggak kumpul bareng. Kemana aja loe? Menghilang gitu aja”
“gue ada di rumah, kalian aja yang nggak ngajak gue” ujar  kevin sambil menarik kursi dan duduk di samping zian.
Perbincangan mereka berlangsung cukup lama hingga seketika itu pula vivi datang, dan langsung menghampiri zian.
“Zian” panggil vivi sambil melambaikan tangan ke arah zian. Dan seketika itu pula kevin menoleh ke arah panggilan itu. Ia  sentak terkejut, “wanita itu lagi” gumam kevin di dalam hati.
“Apaaa...anak menyebalkan itu lagi, mengapa ia ada disini dan bersama zian lagi,, huufft” ujar vivi dalam hati sambil menghela nafas. Ia terus saja berjalan ke arah zian tanpa memperdulikan kevin yang ada di sana.
“Zian, kemarin loe pinjem buku tulis gue. Kenapa belum di kembalikan, gue kan juga mau belajar....besok ada kuis soalnya”
“Apa....gue kan baru pinjem beberapa hari yang lalu,..ya...ya nanti gue anter ke rumah” ungkap zian sambil menyedot minuman yang ada di atas meja.
“loe mau makan,biar gue yang traktir”
“Eemm, eng..enggak usah makasih, gue buru-buru nih” jawab vivi dengan terbata-bata,ia berusaha mencari-cari alasan agar ia tidak menerima tawaran dari zian. Vivi tidak ingin berlama-lama berada disana apalagi bersama dengan orang yang menyebalkan.
“Nggak usah sok nolak, bilang aja kalo loe lagi laper” kata ketus itu terlontar dari bibir kevin.
“Hei.. apa katamu, dasar cowok misterius, menyebalkan, nggak punya perasaan.” Emosi vivi seketika itu juga naik, ia mengambil air yang ada di meja kemudian menyiramkan ke wajah kevin.
“Eh...eh..eh apa-apaan ini,dasar cewek nggak jelas” kevin meninggalkan tempat itu dengan basah kuyup.
“Kalian sudah saling kenal, terus kenapa kalian berantem..masalahnya apa?” tanya zian dengan rasa penasaran.
“Tanya aja tuh dengan temanmu yang ngeselin itu,,(cowok belagu)..huuh”
“Namanya kevin bukan belagu, lagian kalian sih...baru kenal udah main berantem aja, ya udah sana pesen makanan biar gue yang traktir.”
“Nggak laper” seketika itu pula vivi pergi dari sana dengan kekesalan yang bertambah dalam hatinya. “Ohh...namanya kevin, pantes kayak orangnya NGESELIN” ujar vivi dalam hati.
            Setiap kali vivi bertemu dengannya, tingkat emosinya bertambah selalu ada saja yang membuatnya kesal. Berbeda halnya dengan zian, sahabat yang telah ia kenal sejak di bangku sma itu begitu baik padanya, seringkali vivi diajak main kerumahnya dan makan bersama. Tak di pungkiri bahwa kini persahabatan itu masih saja sama seperti beberapa tahun yang lalu, kocak,lucu,menyenangkan semua hal yang zian lakukan selalu membuat vivi tertawa.
            “Tok..tok..tok..permisi?” terdengar suara ketukan di pintu depan, ibunya vivi berjalan menuju ruang tamu dan membukakan pintu.
            “Eh..zian, mari nak silakan masuk, pasti cari vivi ya..sebentar tante panggilkan ya” sambil mempersilakan zian masuk. “vivi..nak ini ada zian mau ketemu, lagi ditunggu di ruang tamu.”
            “Silakan duduk nak, bentar lagi vivi kesini...kalo gitu tante tinggal dulu ya ke belakang.”
            “Em....eh iyya tante, terima kasih ya” sahut zian dengan senyum di wajahnya, sebenarnya ia datang kesini karena ingin tahu apa masalah antara vivi dan kevin.
            “Hei...zian tumben loe ke sini..kenapa?” vivi menuju ruang tamu dan duduk di sebelah zian.
            “Emang kenapa kalo aku kesini nggak boleh?”zian menjawab dengan gurauannya.
            “Ya..enggak lah, aku Cuma bercanda” jawab vivi sambil pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum.
            “Eh..ada masalah apa loe sama kevin?”
            “Apaaa..?” vivi sentak terkejut sambil meletakan minum di atas meja. “jadi loe kesini Cuma mau nanya itu?” sahut vivi kembali dengan nada kesal.
            “Enggak.. kevin juga sahabatku dan loe juga sahabatku, gue nggak bisa biarin kalian berantem” zian mencoba membujuk vivi untuk menjelaskan yang sebenarnya.
            “Tanya aja tuh sahabat loe...nih luka yang sahabat loe buat ke gue”vivi menunjukan luka bekas ia terjatuh.
            “Ini kenapa vi?..kenapa loe nggak bilang...apa ini gara-gara kevin?” zian terkejut melihat bekas luka di lengan vivi.
            Setelah vivi menceritakan seuanya kepada zian, akhirnya zian paham dengan masalah yang terjadi di antara mereka. Zian merasa bersalah ketika ia berfikir yang tidak-tidak mengenai vivi dan kevin, kini zian harus mencari cara agar hubungan persahabatan kevin dan vivi kembali membaik. Kevin harus meminta maaf kepada vivi, sikapnya sudah sangat keterlaluan kepada vivi, kevin memang orang yang acuh tak acuh seolah ia tak mempunyai rasa belas kasih lagi.
            Jalanan menuju kampus masih lengang. Terlihat  sebua motor melaju dengan begitu kencangnya, seakan tak menghiraukan siapa saja yang lewat. Beberapa menit kemudian ketika vivi akan sampai ke kampus, ia melihat kecelakaan. Vivi langsung mendekatinya, betapa terkejutnya ia bahwa yang korban tabrak motor itu ternyata Kevin. Di lokasi tidak ada siapapun, vivi melihat pelaku kabur dan meninggalkan kevin sendiri. Untuk sesaat ia tak memperdulikannya ,toh kemarin kevin tidak memperdulikannya ketika ia terjatuh di lantai dan terluka, tetapi ia membalikkan badannya kembali. Vivi tidak  tega bila harus meninggalkan kevin sendiri dengan keadaannya yang sangat parah, vivi menoleh ke arah jalanan dan mencari-cari siapa tau ada kendaraan yang lewat.
            “STOP..STOP..” teriak vivi sambil melambaikan tangan dari pinggir jalan.
            Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. “ Ada apa mbak, apa yang terjadi” tanya salah seorang dari dalam mobil sambil membuka pintu.
            “Astagfirullah, ayo masukkan ke mobil..dia terluka parah..Tolong..tolong” wanita itu sentak berteriak meminta tolong.
Ada beberapa mahasiswa yang datang menghampiri dan membantu mengangkat kevin ke mobil. Vivi pun ikut masuk ke dalam mobil, ia tidak mungkin meninggalkan kevin sendirian bersama orang yang tidak di kenalnya. Sesampainya di rumah sakit,kevin langsung di bawa ke ruangan, vivi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia teringat “zian” ,ia langsung mengambil Hp di dalam tas dan menelpon zian.
“Halo..Zian cepet loe dateng ke rumah sakit deket kampus, kevin kecelakaan gue nggak tau harus berbuat apa” vivi berbicara dengan terburu-buru.
“APA..em..oke,oke gue segera kesana..sekarang loe tenang dulu ya.” Zian sangat terkejut mendengar perkataan vivi, “Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya zian dalam hati.
Vivi duduk di bangku sebelah wanita yang ikut menolongnya tadi.
“Mbak yang tabah ya, inshaa Allah semua akan berjalan dengan lancar..dokter pasti melakukan yang terbaik” sorotan mata itu seketika menenangkan vivi.
“Perkenalkan nama saya syifa...lengkapnya muthia nur syifa, nama mbak siapa?”
“Em..mm...saya vivi...vivi mutiara utami.” Ujar vivi sambil menyalami wanita itu. Penampilan wanita itu begitu aneh baginya, berbeda jauh dengannya. Kerudungnya panjang, begitu pula dengan bajunya apalagi ia juga memakai kaos kaki. “hah, kayak anak SD aja pake kaos kaki, apalagi bajunya kayak ibu-ibu (kuno)” gelak vivi dalam hati. Tidak lama kemudian zian datang, menghampiri vivi.
“Dimana kevin?..apa dia baik-baik saja” zian bertanya dengan nafas yang terengah-engah.
 “Dia akan baik-baik saja,  jangan khawatir” tiba-tiba terdengar sahutan dari arah kiri, seseorang yang tengah duduk di bangku.
Zian membalikkan badan, ia melihat seorang wanita yang begitu anggun, dan menarik perhatiannya pandanganya tak lepas ke arah wnita itu.
“Em..oh ya ini syifa, dia yang membantu membawa kevin ke sini.” Vivi berusaha mencairkan suasan kala itu.
“Kevin” ucap kevin sambil mengulurkan tangan.
“Syifa” uluran tangan kevin tak disambut oleh syifa ia hanya menunduk dan merapatkan kedua tangannya ke dada.
“Em.. vivi kalau begitu saya pulang dulu ya kebetulan ada urusan yng harus saya selesaikan, temanmu kan sudah datang jadi saya bisa pamit pulang.”
“Oh.. ya mbak terima kasih banyak ya, maaf sudah merepotkan?” vivi kembali menyalami wanita itu, seolah mereka sudah lama kenal.
“Tidak masalah, sudah merupakan kewajiban setiap manusia untuk saling tolong menolong, semoga temanmu segera sembuh.”
“Aamiin ..Ya mbak terima kasih atas doanya” wanita itu pergi dari hadapan mereka. Tidak lama kemudian pula dokter keluar dari ruangan. Dokter menjelaskan semuanya, zian mengajak vivi masuk ke ruangan tapi vivi tidak mau, ia tidak ingin mendapatkan masalah lagi ketika bertemu kevin. Akhirnya kevin masuk ke ruangan sendiri.
“Hei ...kevin bagaimana keadaan mu?..apa yang kau rasakan.” Zian mendekati kevin.
“Gimana gue bisa ada di sini, apa yang terjadi.” Kevin memegang kepalanya dan berusaha bangkit dari tempat tidur.
“Tenang... ceritanya panjang, singkatnya loe kecelakaan dan loe tau siapa yang bawa kesini, VIVI.. orang yang sering berantem sama loe, orang yang loe tabrak dan sampe tangannya lecet. Kenapa sih loe ngelakuin itu..sejahat itu kah kevin yang gue kenal.” Zian tak bisa lagi menahan emosinya.
Dan kevin tidak mampu menjelaskan apa-apa lagi ke zian, ia mengaku salah dan selama ini ia telah berlaku kasar kepada vivi. Sekarang ia ingin meminta maaf padanya, kevin meminta zian untuk memanggilkan vivi. Ketika zian keluar dari ruangan dan ingin memanggil vivi, ternyata vivi sudah tidak ada di bangku tempat ia duduk. Zian menjadi bingung, ia segera menelpon vivi dan ternyata vivi telah pulang ke rumah ibunya meminta vivi untuk kembali ke rumah.
“Selamat pagi anak-anak”dosen masuk ke kelas dengan seorang wanita yang tidak asing lagi bagi vivi, setelah ia mengingat ternyata itu syifa, orang yang membantu menolong kevin ketika kecelakaan.
“Kita kedatangan mahasiswi baru, baik nak perkenalkan dirimu”
“Assalamualaikum, selamat pagi teman-teman.. perkenalkan nama saya muthia nur syifa. Saya tinggal di perumahan dekat kampus, bila teman-teman ingin berkunjung kerumah. Saya pindahan dari universitas airlangga, saya pindah ke sini karena ikut ayah saya bekerja..baik cukup sekian terima kasih wassalamualaikum.”Dosen kemudian menyuruh syifa untuk duduk.
Syifa tersenyum ketika melihat vivi berada di kelas yang sama. Ketika kelas telah usai, seperti biasanya vivi menuju kantin tetapi pendangan nya tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di taman. Ia menghampiri dan ternyata itu syifa,terlihat ia sedang membaca sesuatu.
“Hei, ” vivi tersenyum sambil duduk di samping syifa.
“Hei... vivi, bukankah lebih baik bila mengucap salam terlebih dahulu. Assalamualaikum?” syifa menaruh senyuman hangat ke arah vivi.
“Hhhe... waalaikumsalam, lagi ngapain sendirian disini..kok nggak ke kantin?” tanya vivi dengan penuh penasaran.
“Emm.. lebih baik menyendiri daripada berkumpul dan bercerita yang tidak jelas...saya lagi menghafal Al-quran.” Jawaban itu disambut syifa dengan tawa.
“Ooh..begitu” jawaban syifa sudah cukup meyakinkan vivi, hingga dibuat tertegun.
Sore harinya kelas berlanjut, hingga pada waktu menjelang sore terdengar adan berkumandang. Ia melihat syifa terburu-buru menuju masjid kampus, ia heran bukannya berlari ke kelas tetapi ke masjid, vivi diam-diam mengikutinya.  Hatinya semakin berguncang ketika melihat orang-orang di masjid, dan salah satunya disana ada syifa. Ia teringat bahwa beberapa tahun yang lalu ia pernha melakukan shlat dan sekarang itu tidak lagi ia lakukan. Hatinya semakin dipenuhi gejolak tanda tanya yang rumit. Ketika pulang vivi menghentikan langkah syifa.
“Emm.. syifa, bisakah kita bicara sebentar”
“Ya, vi ada apa.. ada yang bisa ku bantu?” syifa memegang pundak vivi dengan senyuman hangat di wajahnya.
“Em..anu..Eh.. kamu mau nggak ngajarin aku shalat?” vivi terbata-bata seolah olah bibirnya tak mau bicara.
“Subhanallah, alhamdulillah...Emm maaf memangnya vivi nggak belum bisa sholat?” syifa bertanya kembali.
“Enggak” vivi menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan menunduk, ia merasa malu pada syifa.
“Baik kalau begitu, kita mulai hari ini saja...saya akan kerumahmu, kalau begitu kita bareng saja yuk.” Syifa mengajak dengan penuh semangat.
“Eem...oh iiy iya.” Vivi merasa sangat canggung, betapa baiknya wanita ini bagaimana bisa aku berfikir yang jelek tentang syifa.
Beberapa hari berlalu, syifa dan vivi akhirnya menjadi sahabat karib yang sangat dekat, penampilan vivi saat ini juga sangat berubah. Dan yang paling mengejutkan, ia kini tak lagi sama seperti vivi yang dahulu. Perubahan itu juga dirasakan oleh ibunya vivi. Ketika sedang menghafal AL-QURAN bersama di taman, mereka kedatangan dua sosok laki-laki yang tidak asing lagi bagi mereka.
“VIVI..SYIFA” zian memanggil dari arah belakang.
“ZIAN...KEVIN kalian apa kabarnya, ya Allah sudah lama kita tidak bertemu, dan kevin bagaimana keadaanmu?” Vivi menjawab dengan penuh senyum, berbeda sekali ketika beberapa bulan yang lalu.
“Kamu nggak marah sama aku?” tanya kevin
“Kenapa mesti marah,tidak ada yang salah dan orang yang suka marah itu dulu bukan vivi dan ini vivi yang sebenarnya sekarang.” Jawab vivi
“Aku menyesal, telah bersikap kasar kepadamu aku tahu bahwa engkau yang menyelamatkanku waktu kecelakaan waktu itu, apa jadinya aku bila tidak di tlong oleh mu.”
“Eits.. bukan hanya aku yang menolongmu, syifa juga menolongmu..ya kan fa” Vivi merangkul syifa, dengan gelak tawa
“Vivi bisa aja,,, justru kamulah yang luar biasa vi... bisa menjadi seseorang yang lebih baik sampai saat ini.”
“Itu semua kan berkat kamu fa, aku janji akan selalu memperbaiki diri.. karena kau tahu aku telah melakukan banyak sekali perbuatan yang dilanggar oleh Allah. Dan mulai sekarang nggak ada lagi vivi si pemarah.” Vivi memecah gelak tawa di antara perbincangan. Perbincangan pagi itu benar-benar suatu kejaiban, tanpa disadari oleh mereka ber empat. Dan semua itu berubah ketika kedatangan  syifa menyadarkan banyak orang tentang betapa indahnya persaudaraan dengan kasih sayang, persaudaraan dengan penuh kehangatan. Tanpa ada saling benci dan dendam di dalam hati.
“Jati diri seorang manusia adalah saling mengasihi antar sesama, bila ketika emosi yang lebih mengusai itu artinya belum bisa memahami akan arti persaudaraan yang sesungguhnya.” 

“Ketika persahabatan dihadapkan dengan beribu masalah itu artinya, persahabatan itu akan semakin kuat. Karena walaupun terjadi konflik antar sahabat ada kalanya mereka akan bersatu kembali dan itu lah yang dinamakan persahabatan sejati, yang telah memiliki ikatan ukhwah dari illahi” 

“Ketika sahabatmu marah, biarkanlah dahulu beri waktu untuk ia berfikir. Jangan terburu-buru menasihatinya, hingga suatu waktu ia telah mampu berfikir jernih dengan keadaan, barulah engkau menasihatinya” 


F.O.E

Komentar