Nenekku malang, Nenekku sayang







Berlabuh dalam buaian kasih, menghantarkan mimpi lewat doa.
Menapaki jalan hidup penuh sandiwara, karena sang buah hati
Tak lagi berhati murni.

            Duaaaaarrrr .....!! sentak terdengar suara hempasan pintu yang berasal dari dapur.
Dengan tubuh rentanya dan tak lagi kuat seperti dulu,ia terus melangkahkan kaki berjalan ke arah datangnya suara itu. Ia pun terkejut dengan pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai. Ia tak melihat siapa-siapa di dapur,yang ada hanya sisa pecahan piring dan kain penutup meja makan yang berserakan. Tetapi pintu dapur belakang terlihat terbuka. Ia memandang kembali  ke luar,tapi tak seorang pun terlihat disana. Rasa bingung dan penasaran di dalam benaknya. Ia langsung membersihkan pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai.
            Hari semakin larut,sayup-sayup bedug mulai terdengar di masjid seberang. terlihat anak-anak bersiap untuk pergi mengaji. Dengan sarung dan baju yang di pakai,terlihat sangat indah dipandang. Apalagi ditambah dengan Al-quran yang dibawa di dadanya.
            “Nek....sedang apa di pintu, hari sudah magrib.”terdengar sahutan dari seberang jalan.
            “Tidak cu..sudah cepat pergi ke masjid nanti terlambat” sambil melambaikan tangannya menyuruh anak-anak itu untuk segera pergi.
            “ya sudah kami berangkat dulu ya nek..Assalamualaikum?” sambil melangkahkan kakinya dan melambaikan tangan.
            “waalaikumsallam” dengan suara yang agak lemah menjawab dari seberang jalan tempat anak-anak lewat pergi ke masjid.

            Ia memang sering terlihat termenung ketika waktu magrib,di depan pintu rumahnya. Ia selalu bersedih ketika melihat anak-anak di desanya bersama-sama pergi ke masjid untuk pergi mengaji. Dua belas tahun yang lalu anak sulungnya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya padahal anaknya baru berusia sekitar sepuluh tahun. Ia meninggal karena kecelakan tragis yang menimpa ia dan keluarga nya ketika dua belas tahun yang silam. Suaminya pun meninggal bersamaan dengan anaknya. Ia memiliki dua orang anak satu laki-laki dan satunya perempuan. Si sulung bernama fajar dan adiknya si bungsu bernama dini, namun kini kehidupan dini menjadi sangat berubah semenjak ayah dan kakak nya meninggal. Ia masih tidak terima jika mereka telah pergi mendahuluinya. Dan ia juga tidak menerima kenyataan bahwa kini ia tidak memiliki harta lagi,maklum semenjak kepergian ayahnya harta dan rumahnya di gadaikan untuk membayar semua hutang-hutang ayahnya ketika masih hidup.

            Oleh karena itu juga ia tidak menerima dengan keadaan yang sekarang. Kini ia tinggal bersama ibunya di sebuah gubuk kecil. Meskipun tidak terlalu besar,gubuk itu bisa digunakan untuk tidur dan tempat tinggal. Tetapi ia masih saja tidak terima dengan keadaan ini semua. Gubuk itu juga pemberian dari salah satu warga desa,yang merasa iba dengan keadaan keluarganya.
            Kini kehidupannya sangat tidak teratur,ia pulang kerumah hanya untuk meminta uang kepadanya ibunya yang sudah renta. Maklum usianya kini telah enam puluh tahun. Penyakit apa saja bisa datang menghampirinya.
            “Ibuuu....ibuuuuu,dengar tidak. Dasar tuli  !!” sambil menendang kursi yang ada di meja makan. Ia mencari-cari tapi ia tidak menemukan ibunya. Ia lalu berjalan menuju kamar ia melihat ibunya sedang terbaring di kamar.
            “Ooh..jadi ini kerjaannya,cuma tidur saja...ayo bangun,aku lapar di meja makan tidak ada nasi.” Menarik tangan ibunya dengan kasar,sampai ibunya jatuh ke lantai dan tersungkur.
            “Dini..maafkan ibu nak,ibu lagi tidak enak badan. Ibu tidak kuat jika kau suruh ibu untuk masak...uhuuk..uhuuuk” dengan tubuh lemahnya ia berusaha untuk bangkit dari lantai.
Batuknya semakin parah, beberapa hari ini ia memang sering seperti ini batuk terus-menerus. Terkadang batuknya pun bersamaan keluar dengan darah. Tapi dini tidak menyadari apa yang sedang dialami oleh ibunya ia hanya menuruti nafsu dan emosinya.
            “Aaah...aku tidak mau tahu,sekarang aku lapar. Cepat pergi ke dapur dan masak.” Sambil mendorong dengan kasar tubuh ibunya yang renta.
            “uhuuk...uhuuk, tapi nak ibu tidak punya lagi beras, persediaan beras kita sudah habis. Uang hasil penjualan kayu bakar kemarin belum sempat ibu belikan beras.” Tubuh yang terkulai lemah tak mampu lagi menopangnya untuk jalan.
            “Dasaarr, pemalas ....sekarang mana uangnya,cepat berikan.”sambil memukul meja. Ia memaksa ibunya untuk memberikan uang hasil penjualan kayu bakar kemarin. Seakan tak punya hati,ia terus-menerus membentak ibunya.
            “Ta...tta..tapi nak ini uang untuk membeli beras bukankah engkau lapar.”sambil mengeluarkan uang dua ribuan dari saku lusuhnya.
.           “Aaah...sudah,mana sini.” Mengambil dengan paksa dan menghitungnya.   “Apaaaa....cuma sepuluh ribu,beli beras mana dapet,huuuh... dasaaar” membanting kursi dan langsung pergi dengan membawa uang yang ia dapat dari ibunya.
...
Harapan kini menjadi layu bersamaan dengan bergantinya musim.
Daun hijau berguguran bersamaan dengan kepercayaan yang teguh

            Setiap hari dini selalu begitu, ia tidak pernah mengerti perasaan ibunya. Terkadang tetangga dekatnya pun sering menasihatinya untuk tidak kasar terhadap ibunya tetapi ia tidak pernah mendengarkan perkataan siapa saja yang menasihatinya. Terkadang ada pula tetangga yang marah karena merasa terganggu dengan keributan yang setiap hari terjadi di rumahnya.

            Hingga pagi menjelang,tubuh yang lemah ini pun tak bisa bersahabat. Batuknya semakin parah. Darah yang keluar pun semakin banyak,ia ingin pergi berobat. Tetapi ia berpikir kembali,bahwa ia tidak punya uang untuk pergi ke apotek. Meski tubuhnya masih sangat lemah,ia memaksakan diri untuk pergi mencari kayu bakar. Ia tidak ingin anaknya kecewa lagi. Ia berharap mendapat rejeki hari ini dan bisa membeli beras. Di tengah perjalanan ia banyak menemukan kayu yang berserakan, kebetulan kemarin sore ada pohon yang tumbang karena angin. Jadi ia tidak perlu capek-capek keliling untuk mencari kayu bakar. Lagi pula masyarakat disini juga memperbolehkan siapa saja mengambil kayu dari pohon yang telah tumbang.

            Setelah mendapatkan beberapa kayu untuk di jual ia pun langsung meninggalkan tempat itu dan bergegas untuk menjual kayu bakar tersebut. Ia menjual kayu bakar tersebut di sekeliling desa,ia berharap kayu bakar nya kali bisa terjual habis.
            Tiba-tiba terdengar panggilan dari arah kanan jalan.
            “Nek... kemari,saya mau beli kayu bakarnya.”dengan suara yang lantang dan sambil melambaikan tangan. Ternyata itu adalah suni,salah satu warga desa.
            Aku pun melangkahkan kaki ke arah panggilan itu,dengan bersemangat. Semoga hari ini rezeki dari tuhan berpihak padaku.
            “Berapa harga kayunya Nek Rea ...?”sambil melihat-lihat beberapa tumpukan kayu yang tergeletak disamping tangga rumah.
            Beliau memang sering dipanggil nek Rea,sebenarnya namanya  ialah maria. Tetapi warga di desa sering memanggilnya Rea. Sekejap ia termenung,ia berpikir mau dijual dengan harga berapa kayu-kayu itu.
            “Nek, kenapa diam.. ya sudah saya beli kayunya,dan ini uang untuk Nek Rea.” Suni memberikan dua lembar uang dua puluh ribu. Dan menyodorkannya ke tangan Nek Rea.
Mula-mula Nek Rea terlihat ragu-ragu untuk mengambil uang itu,tetapi suni tetap saja menyodorkan uang itu ke saku Nek Rea. “Nak Suni ....banyak sekali uangnya,kayu bakar ini tidak sebanding dengan uang yang telah Nak Suni berikan ke saya.”sambil memperlihatkan dua lembar uang dua puluh ribuan itu.
            “Sudah nek tidak apa-apa,ini uang untuk nenek semoga bisa bermanfaat.” Suni menyerahkan uang itu dan memasukannya ke saku Nek Rea. Ia merasa kasihan dengan keadaan yang dialami Nek Rea,ia kagum padanya. Walaupun sudah tua tetapi ia tetap tegar dalam menjalani kehidupan. Dan juga ia prihatin dengan anak bungsu Nek Rea,yang selalu bersikap kasar terhadap Nek Rea dan tidak memikirkan bagaimana perjuangan Nek Rea dalam menghidupi keluarganya.

            Nek Rea pun pulang dengan hati yang sangat gembira,ternyata hari ini nasib baik telah berpihak padanya. Seperti biasa ia langsung menuju rumah,tak mau menunggu lama setelah ia meletakan alat-alat untuk mengambil kayu bakar, ia mengunci pintu dan bergegas pergi ke warung untuk membeli beras. Karena ia ingin ketika pulang nanti anaknya bisa makan dan tidak perlu marah-marah lagi kepadanya.

            Belum jauh ia melangkahkan kaki dari pintu rumah. Tiba-tiba dini datang dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Dini berjalan tak tentu arah,seperti orang mabuk. Nek Rea pun langsung menghampirinya. Dengan langkah yang pelan ia berusaha untuk membawa Dini masuk ke dalam rumah. Sambil membawa Dini ke dalam rumahnya,ia mencium bau yang sangat asing baginya. Rupanya dini habis meminum minuman keras. Ia sangat tidak menyangka bahwa anak yang sangat ia sayangi telah berani menyentuh, bahkan meminum barang haram itu. Dini ia baringkan di kasur,badannya sangat lemas. Nek suni khawatir terjadi apa-apa pada anak semata wayangnya yang ia punya saat ini.

            Hingga sore menjelang,Dini belum sadar-sadar juga. Nek Rea semakin panik ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia terus memberikan kompresan di kepalanya,hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia teringat bahwa ia belum membeli beras,Nek Rea langsung bergegas pergi ke warung. Tak jauh dari rumahnya,warung itu ada di seberang jalan rumahnya.
            Nek Rea bergegas untuk memasak beras tersebut,agar Dini bisa segera makan. Ia khawatir jika Dini nanti akan sakit.
            "Dini...bangunlah nak, ibu sudah membuatkan bubur untukmu.bangunlah...nak” Nek Rea semakin khawatir kenapa Dini belum juga sadarkan diri.

            Selang beberapa lama,Dini pun sadar. Nek Rea pun sangat merasa lega sekali. Ia langsung memeberikan bubur yang telah dibuatnya kepada dini. Tetapi apa yang dilakukan dini. Ia membanting mangkuk yang berisi bubur yang telah dibuatkan Nek Rea untuknya. Ia kemudian langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung pergi dari rumah. Dan ia pun meninggalkan pecahan mangkuk bubur yang berserakan di lantai. Tak lama setelah dini pergi tiba-tiba Nek Rea terjatuh di lantai. Tubuhnya terkulai lemah,terlihat bekas darah di tangan kanannya. Nek Rea tak sadarkan diri,beruntung ada warga desa yang melewati rumah Nek Rea dan bergegas membawa Nek Rea ke Rumah sakit terdekat.

            Sesampainya di rumah sakit,Nek Rea langsung di bawa ke ruangan UGD. Ia masih juga belum sadarkan diri. Beberapa warga desa ikut mengantarkan Nek Rea ke Rumah sakit. Termasuk juga suni,yang sering membeli kayu bakar Nek Rea. Warga desa semakin cemas karena sudah lebih dari satu jam dokter belum juga keluar memberitahukan apa yang terjadi dengan Nek Rea.
            Suni pun teringat akan Dini anak Nek Rea,ia langsung mencari Dini. Sementara suni pergi mencari Dini,dokter pun keluar dari ruangan.
            “Apakah ada salah satu keluarganya disini..?”tanya dokter sambil melihat ke arah warga yang ada di ruangan itu.
            “Ya Dok...kami semua keluarganya. Apa yang terjadi dengan Nek Rea Dok apakah beliau baik-bak saja” jawab salah satu warga dengan lantang.
            “Pasien mengalami stres yang sangat berat,dan juga penyakit yang dideritanya sangat parah. Ia menderita kanker paru-paru,sepertinya sudah satu bulan ia mengidap penyakit ini. Dan juga ternyata pasien hanya mempunyai satu ginjal,oleh karena itu ia tidak mampu lagi untuk bertahan ” Ujar dokter kepada para warga.

            Dari kejauhan tampak terlihat sosok yang tidak asing lagi bagi para warga. Ternyata itu adalah Dini dan Suni. Suni berhasil menemukan Dini,ia langsung memberitahukan bahwa Nek Rea sedang sakit.Dini pun langsung berlari menuju ruang UGD, ia melihat ibunya di tempat tidur dengan selang yang menutupi hidungnya dan juga infus yang tergantung di sampingnya.
            “Ibuuuuuuuu,..maafkan Dini bu,Dini akan jadi anak yang baik. Dini akan berubah bu,,Ibuuuu jangan tinggalkan Dini.” Ujar Dini sambil menangis di samping Nek Rea. Tak henti-hentinya ia menangis, hingga kemudian dokter datang dan menceritakan semua penyakit yang dii derita oleh ibunya. Ia semakin terpukul,begitu bodohnya ia. Tak berpikirkah bahwa ibu yang selama ini menyayanginya dengan sepenuh hati,namun ia sia-sia kan begitu saja. Rasa penyesalan itu hadir ketika ia mengetahui betapa berat beban yang di tanggung oleh ibunya. Tiba-tiba suni pun datang,ia kemudian mengatakan sesuatu pada Dini. Bahwa alasan mengapa ginjal Nek Rea itu hanya tinggal satu, ternyata ginjal yang satunya lagi ia berikan kepada Dini, karena kecelakaan yang menimpa Dini mengakibatkan Dini kehilangan satu ginjalnya. Nek Rea telah mendonor satu ginjalnya itu demi kelangsungan hidup Dini. Dan Nek Rea bertahan hidup hanya dengan satu ginjal hingga sampai saat ini. Dini semakin merasa bersalah,ternyata pengorbanan ibunya terhadap dirinya sangat besar namun ia tidak menyadari itu,ia hanya menuruti egonya saja. Baru kemudia ia menyadari bila apa yang telah dilakukannya selama ini,sungguh perbuatan yang sangat tidak terpuji. Namun terlambat sudah,Dini terlambat menyadari nya. Kini ia hanya bisa berdoa semoga ibunya kembali sehat dan bisa beraktifitas seperti biasanya.
Sudah satu minggu Nek Rea tidak sadarkan diri, hari ini dokter mulai mengecek kembali keadaan Nek Rea. Pikiran Dini semakin kalut,ia takut terjadi apa-apa pada ibunya. Dokter keluar dari ruangan dan wajahnya tampak sangat berbeda.“Maafkan kami bu.... kami telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan pasien,tapi yang maha kuasa berkehendak lain. Denyut jantungnya melemah ia sangat kehabisan darah. Pasien sudah pergi bu...semoga ibu diberi ketabahan.” Setelah dokter mengatakan itu,Dini pun langsung jatuh pingsan. Nek Rea di makamkan di dekat rumahnya,agar dini bisa selalu dekat dengannya. Ia sangat terpukul dengan semua ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi ia harus merubah sikapnya dan menjadi anak yang baik, agar Nek Rea juga tenang dan merasa senang di alam sana.
...
“Datangnya Penyesalan berawal dari kejadian yang tidak terduga oleh manusia,  jangan biarkan khayalan mengalahkan logika pikiran manusia. Karena hidup bukan hanya tentang mencapai kebahagiaan, tetapi bagaimana membuat orang tersayang tersenyum”

Komentar