PERSAHABATAN DI UJUNG DESA





Hujan sore itu membuat jalanan disekitar tempat tinggalku tergenang oleh air,aktifitas terhenti akibat hujan deras bersamaan dengan angin yang begitu kencangnya. Sungai yang menjadi alat transportasi para warga pun menjadi sangat derasnya. Oleh karena itu banyak para warga desa yang kesulitan beraktifitas karena air bah dari hulu sungai mengalir ke aliran sungai yang menjadi salah satu alat transportasi bagi warga desa, termasuk juga para anak-anak yang ingin pergi ke sekolah pun ikut merasakan kesulitannya.
            Tak ada warga desa yang berani melewati sungai dengan perahu kecil lainnya,terutama pada musim penghujan seperti ini. Beberapa pohon bisa saja tiba-tiba tumbang di samping atau di depan rumah,karena angin yang menderu begitu kencangnya. Sudah dua hari hujan melanda desa ini,begitu pula jona dan hamid mereka tidak masuk sekolah karena tidak henti-hentinya hujan turun di desa ini.
            Kampung terlihat masih menyisakan aktifitas setelah hujan sore tadi. para penduduk di kampung jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Hanya ada beberapa keluarga yang menempati rumah-rumah yang kebanyakan telah lapuk. Dan juga sewaktu-waktu rumah yang di tempati itu bisa menimpa siapa saja yang ada di dalamnya. Beberapa kali tedengar suara gedebuk dari belakang rumah,yang berasal dari kelapa yang telah tua sehingga menimbulkan suara gedebuk ke tanah. Selain jagung dan padi kelapa pun menjadi salah satu sumber penghidupan di kampung ini. Hamid dan jona memang sering bersama,tidak heran bila warga desa menyebut mereka kembar karena aktifitas mereka yang dihabiskan selalu berdua. Mereka dilahirkan dari keluarga yang berbeda hanya saja kedekatan mereka dari kecil yang membuat mereka selalu bersama.
 “Jon tolong engkau ambilkan tongkatku, ada di belakang pintu” kata hamid sambil menunjuk ke arah pintu rumahnya.
“Ini” seru jona sambil memberikan tongkat itu pada hamid.
“Terima kasih”
Ia meminta jona untuk mengambil tongkat penyangga tubuhnya. Karena kejadian beberapa tahun lalu,ketika hamid sedang bermain di atas jembatan di pinggir desa. Salah satu batang kayu patah, dan hamid pun dengan mudahnya jatuh ke sungai yang dalam dan deras itu. Akibatnya kaki kanan hamid patah,sehingga ia harus menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya dan memudahkan ia untuk berjalan.
            Pernah juga hamid kedua kalinya hampir saja jatuh ke sungai ketika pergi ke sekolah, karena perahu yang dinaikinya tergoyang oleh arus. Tetapi jona dengan sigap menangkap tubuh hamid, dan langsung menariknya kembali ke parahu kecilnya. Pernah terlintas di benak kedua anak itu untuk memiliki perahu yang sedikit lebih besar agar memudahkan mereka, dan bila sewaktu-waktu arus datang perahu itu bisa menahannya. Perahu yang ia gunakan saat ini ialah perahu kepunyaan kakeknya hamid, dan sudah lebih satu tahun perahu itu menemani kedua anak itu. Jona memang tidak memiliki perahu, setiap hari jona selalu menumpang di perahu hamid. Seringkali jona tidak enak karena selalu menumpang, tetapi hamid selalu mengatakan bahwa
“Perahu ini juga milikmu, dan aku juga selalu merepotkanmu. Mungkin jika tidak ada dirimu aku tidak bisa pergi ke sekolah, karena kaki dan tongkatku ini yang membatasi ku untuk berjalan”. Tetapi jona juga tidak terlalu memikirkan keadaan sahabatnya itu,selagi mereka bisa bersama-sama pergi ke sekolah.   
            Jona juga sangat bangga dengan sahabatnya itu, dengan keterbatasan fisiknya tetapi ia tetap bersemangat untuk bersekolah. Walaupun banyak teman-teman lain yang mengejeknya, itu tidak membuat nyali hamid menjadi surut. Justru ejekan dari temannya itu membuat ia semakin kokoh dalam menggapai impiannya. Meski kehidupan orang tuanya tak seberuntung dirinya yang bisa mengenyam bangku sekolah. Kebanyakan warga desa tidak mempunyai pendidikan yang layak. Paling tinggi hanyalah lulusan kelas satu SD, oleh karena itu para orang tua di desa bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anak nya. Meski mereka yang harus merasakan asam pahitnya mencari uang demi mewujudkan cita-cita anaknya.
            Kehidupan hamid dan jona sangat sederhana,mereka pergi ke sekolah dengan menggunakan perahu kecil milik kakek hamid. Sepulang sekolah mereka membantu orang tua di kebun jagung ataupun sebagai buruh pemetik kelapa milik tetangga sebelah. Berbeda halnya dengan jona yang masih mempunyai orang tua yang lengkap, lain halnya dengan hamid. Kedua orang tuanya telah meninggal beberapa tahun yang lalu,kini ia hanya tinggal bersama seorang nenek nya, Nek Kido namanya.
 “Hamid,tolong ambilkan kayu di samping pintu dapur sana, Nenek mau masak ini jagung.” Seru Nek Kido dari dapur tempat ia biasa menjalankan aktifitasnya. Entah itu memasak,memilah biji jagung maupun kegiatan lainnya. Sering kali hamid membantu Nek Kido di dapur,entah itu hanya mengambilkan kayu atau membantu hal ringan yang lain.
Keesokan harinya,langit rupanya bisa diajak bersahabat,matahari muncul bersamaan dengan senyuman indah kedua anak ini. Pagi-pagi sekali Jona pergi ke rumah Hamid untuk pergi kesekolah. Tidak biasanya Jona datang ke rumah Hamid sepagi ini.
            “Hamid...ayo kita pergi ke sekolah,Sudah terlambat kita.” Teriak Jona dari depan jalan. Aku bergegas mengambil tas dan tak lupa tongkat penyangga tubuhnya ia pakai. Kali ini ia bangun terlambat,biasanya ia yang memanggil Jona dan mengajak berangkat bersama. Perahu telah siap,mula-mula Jona yang pertama naik lalu kemudian disusul oleh Hamid. Hamid terlihat sedikit tegang,karena perahu bergoyang-goyang akibat arus. Tetapi Jona berusaha menenangkan hamid dengan memegang tangan kanan Hamid,sambil berkata “Tidak apa-apa hamid tangan engkau saya pegang,engkau tidak perlu takut.” Seru Jona sambil meyakinkan dan memegang tangan  Hamid denagn erat. Hamid pun melangkah dengan perlahan,meski di dalam hati kecilnya masih ada rasa gugup yang luar biasa karena perahu itu terus saja bergoyang. Seolah mengingatkan Hamid dengan kejadian satu tahun silam ketika ia terjatuh ke sungai dari jembatan yang ketinggiannya cukup diperhitungkan.
            Namun Jona terus meyakinkan Hamid,dan Hamid pun akhirnya berhasil menaiki perahu kecil tersebut. Belum cukup dengan rasa gugup yang melanda ketika menaiki perahu itu, dua anak itu pun dihadapkan dengan arus sungai yang semakin lama semakin derasnya. Hamid terus saja teringat dengan kejadian yang sangat memilukan hatinya. Dan Jona terlihat agak sedikit lebih santai dengan dayung yang ia pegang,ia terus mengayuhkan dayungnya dan berusaha sampai ke tepian dengan selamat. Tetapi perahu kecil itu tidak mampu menahan arus yang lewat dengan derasnya,akhirnya perahu kecil itu pun bergoyang dengan cukup keras yang mengakibatkan Hamid terhempas ke sungai. Hamid membayangkan kejadian itu terjadi ketiga kalinya menimpa dirinya, beruntungnya tangan kanan Hamid memegang erat gagang perahu bagian belakang. Jona langsung memegang tangan Hamid dan berusaha mengangkatnya,tetapi tubuh Hamid terasa lebih berat karena setengah dari badannya ditarik oleh arus sungai.
“Hamid...pegang tanganku,ayo naik Hamid aku yakin engkau bisa” kata-kata itu yang selalu terdengar di telinga Hamid sejak tadi. Tak henti-hentinya Jona menarik tangan Hamid, tiba-tiba arus sungai menjadi sedikit lebih tenang. Badan Hamid pun lebih mudah diangkat dan naik ke perahu. Belum juga setengah jalan ke sekolah,mereka sudah dhadapkan dengan masalah yang sangat besar. Tongkat Hamid hanyut terbawa arus,kini ia seakan trauma dengan aliran sungai.
Kedua anak ini pulang dengan baju basah kuyup,hari ini mereka tidak jadi pergi ke sekolah. Malang memang tidak bisa di terka, namun hari ini mereka juga telah membuktikan persahabatan mereka sekali lagi. Berjuang bersama-sama melawan maut yang ada di depan mata mereka. Hamid dan Jona menggigil kedinginan,mereka tak mampu lagi menahan dinginnya air sungai. Apalagi mereka cukup lama berendam dan melawan arus di sungai,apalagi ditambah dengan hilangnya tongkat Hamid. Kini Hamid pulang ke rumah dengan di tuntun oleh Jona,dengan cara tangan kanan Hamid di pundak Jona dan tangan Jona pun memapah Hamid agar bisa berjalan sampai ke rumah.
Nek Kido sangat panik melihat Hamid dan Jona yang menggigil kedinginan karena basah di sekujur tubuhnya.
 “Masya Allah Nak, kau ini kenapa...Ya Tuhan cobaan apa lagi yang engkau timpakan kepada cucuku” teriak Nek Kido yang sambil berlari dari dalam rumah. Alu yang berisi biji jagung langsung ia tinggalkan,kayu penumbuk nya pun ikut ia lemparkan. Ia tidak ingin terjadi apa-apa kepada cucu kesayangannya itu. Nek Kido langsung memapah Juna dan Hamid untuk masuk ke dalam rumah. Nek Kido langsung mengganti baju Hamid dan langsung dibaringkan di tempat tidur yang beralaskan anyaman daun pandan. Jona pun disuruh mengganti baju dengan memakai baju Hamid, ada beberapa baju yang ukurannya sama dengan Hamid. Nek kido kemudian menghangatkan air di tungku, untuk membuatkan minuman hangat untuk kedua anak yang kedinginan itu. Jona beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Nek Kido,ia lalu duduk di sampng tungku. Terasa sedikit hangat dengan api yang Nek Kido buat,sedangkan Hamid masih saja menggigil dan menarik selimutnya erat-erat.                                                                                                                     

Komentar