Pintu surga telah terbuka


Membayangkan yang telah lalu,
seakan menghapus memori kenangan menyakitkan.
Permintaan hati tak sejalan dengan iringan langkah,
kini suratan kehidupan terukir dalam indahnya cahaya kasih.
Mungkin takdir menyapa di balik rimbunan penyesalan
Nanti,setelah hati lelah untuk merasa.

      Ku buka mataku dengan perlahan, menghirup udara pagi karunia dari sang ilahi, tak seperti tahun lalu semenjak aku memutuskan untuk berhijrah dengan memulai suasana baru dan aktivitas baru. Di kampus tercinta Universitas Bengkulu, setelah dihadapkan dengan beribu pertanyaan dan kebingungan yang mendera. Aku selalu berusaha berfikir jernih dalam menyikapi setiap kejadian yang telah ku alami. Sempat mengundang gelak tawa bila kejadian itu terulang kembali.

      Pernah suatu saat ketika aku masih duduk di bangku SMA, pada waktu itu aku dihadapkan pada lingkungan yang tidak mendukung di sekolah. Semua teman di kelasku telah membuat keputusan yang salah dengan memiliki komitmen untuk berpacaran. Saat itu aku berusaha untuk tidak terpengaruh dengan dunia mereka, ada berberapa teman di kelas yang sepikiran denganku untuk tidak terjerumus dalam keputusan seperti itu. Mereka memilih untuk fokus dengan sekolah dan kegiatan, dan tidak mau berurusan dengan yang namanya “PACARAN”. Tetapi ada juga sebagian temanku yang memilih pacaran sebagai cara menyalurkkan cinta nya, tanpa berfikir jernih lagi. Pemandangan seperti itu sempat sangat menggangguku.

      “Eh.. nad aku mau cerita nih, aku lagi sedih semalem aku berantem sama rio. Aku tuh nggak faham sama sikapnya yang kayak anak kecil, kamu tau nggak masa dia yang ngajak aku makan dan aku yang bayar kan parah banget” tiwi bercerita dengan asyiknya”RIO” yah itulah pacar kesayangannya, setiap hari ada saja hal yang ia ceritakan kepadaku. Entah itu kesedihan antara mereka ataupun kebahagian di antara mereka. Aku sering tak menghiraukan ia bercerita, aku hanya ingin menghormati dan menghargainya agar ia tidak tersinggung.
      “Nad, kamu denger nggak sih aku cerita”Tiwi mengejutkanku dengan menepuk bahu kananku.
      “Oh..em..iya aku denger kok” Aku berusaha agar ia tidak tersinggung dan marah padaku, padahal aku sama sekali tidak mengetahui apa yang ia bicarakan.
      “Aku ingin putus sama rio” tiba-tiba tiwi mengucapkan apa yang selama ini ingin aku katakan.
      “Apaa..!!...yahh kalo itu keputusanmu dan bisa membuatmu bahagia aku akan mendukung”jawabku dengan meyakinkannya.
      “Tapiii”
      “Tapi apa lagi...sih” jawabku lagi dengan nada sedikit keras.
      “Aku masih sayang sama rio nad, aku nggak bisa ngelupain dia” tiwi mengatakannya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. “Ya ampun, lebay bener nih anak..” jawabku dalam hati.
      “Kalo kamu aja nggak nyaman lagi sama rio, buat apa di lanjutin..nanti kamu yang bakalan tersakiti terus.” Nadira mencoba menenangkan dan memberi pengertian kepada tiwi.

      Sebagian dari temanku juga masih ada yang bisa berfikir jernih dalam menyikapi fenomena pacaran ini, aku juga sempat terganggu dengan hal ini, sempat juga ketika guru tidak masuk ke kelas hal ini justru memberi peluang kepada para mereka yang memanfaatkan untuk berduaan, ada yng di pojok kelas bahkan di bangku kelas. Aku juga sempat menasihati mereka tetapi bukannya tanggapan positif yang ku dapat, tetapi hanya lah tanggapan yang menurut mereka yang dilakukannya itu tidak salah dan masih dalam batasnya. Aku menghabiskan waktu di luar kelas, itulah mengapa aku jarang di kelas, waktuku sering di habiskan untuk membaca di perpus atau hanya duduk di depan kelas ataupun di mushola.
     
Yang lebih membuatku jengkel, fenomena pacaran tidak hanya antara sesama siswa, tetapi ada pula guru yang berpacaran dengan salah satu siswi tempat guru tersebut mengajar. Aku tidak habis pikir apa yang ada di dalam pikiran mereka ketika melakukan tindakan itu. Karena hal itu pula kebencian ku terhadap pacaran semakin bertambah, orang menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsunya. Hingga saat itu pula aku membuat komitmen untuk tidak akan pernah  melakukan yang namanya pacaran.
...
      Ada salah satu teman yang menginspirasiku untuk berhijrah, beliau bernama winda tak ada yang spesial darinya namun orangnya cerdas, bahkan selalu mendapat rangking 1 ketika di SMA, ia selalu berada satu langkah di depanku. Namun yang aku senangi darinya ialah, sikapnya yang rendah hati, ia tidak segan untuk mengajari siapa saja yang meminta bantuannya, termasuk diriku dengan segala kekuranganku ia selalu membuka tangan untukku, sikap sabar dan perhatian membuatku nyaman ketika berada di dekatnya.
      “Nad, aku ada tawaran untukmu,?” winda bertanya sambil menghampiriku dan tersenyum.
      “Wah.. apa itu?”jawabku langsung.
      “Beberapa hari yang lalu aku mendaftar mengaji di salah satu tempat tinggalku, disana tidak hanya belajar mengaji tetapi juga menghafal AL-QURAN, jika engkau berminat nanti bisa ku daftarkan” winda menjelaskan semuanya padaku dengan gaya bahasanya yang meyakinkan.
      “Emm..gimana ya, jarak dari rumahku ke tempatmu kan jauh.. aku nggak bisa dan kecuali kalau tempatnya di sekitar sekolah. Lain kali saja ya, aku pikirkan terlebih dahulu.” Jawabku dengan sorotan mata menandakan kebingungan.
      “Ya udah kalau kamu mau nanti hubungi aku saja ya, oh ya..kamu sudah dhuha?”winda beranjak dari tempat duduk.
      “Emm.. belum”
      “Ya udah kalau gitu kita dhuha dulu yuk, kebetulan guru juga nggak masuk hari ini.” winda selalu saja menambah keyakinanku untuk menjadi lebih baik lagi.
      Hingga suatu ketika, perasaan itu hadir di dalam benakku tanpa ku sadari hatiku diam-diam menyimpan wajah seseorang, tidak dipungkiri bahwa masa remaja adalah masa yang dipenuhi nafsu dan cinta.
      “Win..itu siapa?” aku menunjuk ke arah laki-laki yang tengah sholat. Berulang kali aku mengucap “Astagfirullahaladzim” pandangan ini salah. Aku berusaha menahan diri, agar tidak terjerumus di lembah zina.
      “Oh..itu kak idris, kakak kelas kita dan di juga bertetangga denganku...kenapa nad?” tanya winda sambil merapikan mukenah yang dipakai.
      “Emm..eh.. ennggak cuma nanya aja.” Aku menjawab dengan terbata-bata.
      Hari pun berlalu begitu cepatnya, suasana perpisahan semakin dekat bersama kakak kelas 3. Hari itu semua nak kelas 1 dan 2 di undang ke acara perpisahan, beliau terlihat begitu tampan dengan jas hitam, dan kemeja putih yang dipakai. “Astagfirullah” pandangan itu hadir kembali, hingga pada puncak acara diumumkannya siswa berprestasi dari kelas 3 dan guru menyebutkan dengan nilai tertinggi yaitu IDRIS, hal itu semakin menambah kekagumanku dan bertambah motivasi dalam diriku. Hingga sampai pada akhir acara adalah sesi untuk berfoto, aku berbisik ke arah winda.
      “Win..temenin aku yuk, foto sama kak idris... aku malu kalau sendirian.” Tanyaku dengan nada perlahan.
      “Oh boleh nanti aku bilang ya, kamu tunggu disini.” Winda beranjak dari tempat duduk.
      “Kak idris, foto bareng ya...kenang-kenangan.” Winda melambaikan tangan ke arah dimana kak idris berada.
      “Oh...boleh-boleh”
      “Nadira sini...”winda berteriak memanggilku.
      “Em...oh ya.”aku berjalan ke arah winda dengan malu-malu.
      “Dek sini..”
      Panggilan itu seakan suatu keajaiban bagiku, untuk pertama kalinya orang yang ku kagumi memanggilku. Aku berusaha untuk bersikap dengan sewajarnya, namun hal itu sulit sekali ku lakukan, jantungku berdetak semakin keras, keringat menetes dari keningku. Sungguh tidak menyangka aku bisa berdiri bersampingan dengan orang yang ku kagumi dan foto bersama. Sepulang dari itu, aku sempat berfikir,”Apa yang telah aku lakukan, ya Allah perasaan ini salah dan aku berusaha mngendalikan diriku, akau teringat kembali dengan komitmenku dan perjanjian hati ini tidak akan pernah ku langggar.

      Hingga waktu berlalu, hari demi hari, detik demi detik, semenjak kepergannya perasaan itu sedikit-demi sedikit memudar. Kini ia telah hijrah ke ranah minang, universitas negeri padang dan semua ini terlewati dengan sendirinya. Tidak ada lagi pandangan mata yang berdosa, tidak ada lagi perasaan yang salah. Yang tertinggal kini hanyalah semangat yang tertanam dalam diri, berawal dari sikap dan senyumannya yang tertinggal dalam jiwa, tetap saja tak mau hilang. Untung saja winda selalu menasihatiku dan berada di sampingku, untuk selalu menyadarkanku bahwa yang aku lakukan itu tidaklah pantas. Disekolah memang belum ada organisasi islam, sehingga masih minim sekali tempat untuk bertanya dan meminta nasihat atas apa saja yang telah aku lakukan. Dan hanya sahabatku winda yang bisa mengerti dengan apa saja yang aku rasakan, winda juga berusaha untuk netral terhadap apa yang terjadi dan tidak pernah memihak yang baik maupun yang salah.
...
Daun yang jatuh mengisyaratkan, kehampaan hati yang kosong.
Tak terisi oleh cahaya petunjuk, sirna di keheningan.
Sempat  terlintas penyesalan dalam diri, menggelayuti
Membunuh sesal dalam kata, merangkai jalan kebaikan
Kini pintu telah terbuka,masuk dan rasakan keajaibannya.
Bulan pengampunan mengetuk relung hati.
Menyapa diri dalam sepi.
Membayangkan bila nafas terhenti,
Apakah mampu diri ini untuk lari.

“Allahu akbar.....Allahu akbar....”. Beduk mulai terdengar dann mulai berkumandang suara azan dari kampung sebelah.
“Ayo waktunya berbuka”. Sahut ku dari ruang makan.
“Ayo, sebelum makan kita berdoa dulu, dian,tiara,semuanya ayo masuk ke dalam ,kita berbuka bersama”. Ujar winda seraya memindahkan buah yang ia pegang di tangannya.
      Nikmat rasanya bila merayakan bulan yang penuh berkah ini bila bersama-sama. Tidak seperti 1 tahun yang lalu, sangat jarang keakraban seperti ini diantara kami. Bergegas setelah buka bersama, dan mempersiapkan diri untuk tarawih di masjid karena kebetulan rumah ke masjid lumayan jauh bila dengan jaan kaki, tapi itu bukan halangan bila dikerjakan bersama-sama.
      Usai sholat kami kembali lagi ke rumah, memang semenjak awal kami diterima di universitas yang sama, kami mencari tempat yang bisa menampung kami semua agar lebih memudahkan ketika ada apa-apa. Aku melihat winda sedang melamun di teras rumah sambil melihat ke arah luar.
      “Bukankah ini begitu indah, semuanya terasa berbeda sekarang.” Ucap winda.
      Aku terkejut ternyata ia tahu keberadaanku”Tentu saja berbeda,puasa pertama tanpa keluarga di sekeliling kita. Aku pun merasakannya”
      “Apakah aku boleh bertanya sesuatu nad?”
Di keheningan malam dengan dingin yang menusuk tulang, pertanyaan winda semakin serius. Menandakan ada yang begitu penting untuk ia sampaikan.
      “Iya boleh, bertanya apa?”jawabku
      “Apakah engkau masih menyimpan perasaan untuk seseorang yang dulu?”
      Aku pun terperanjat kaget kenapa winda bertanya seperti itu”Apa Maksudmu? Aku tidak mengerti,kenapa engkau bertanya seperti itu”
      “Aku ingin tahu apa sahabatku yang satu ini, benar-benar sudah berubah atau belum”
      “Sekarang aku mengerti apa yang kau maksud, aku memang tidak bisa melupakan perasaan ini. Tapi aku berusaha untuk tidak mengartikan perasaan ini dengan nafsuku, walaupun saat ini dia tidak ada disini, mungkin Allah ingin aku bersabar menunggu takdir dariNya.”
      Winda langsung memelukku dengan erat, seolah tidak ingin aku beranjak dari sana. Seraya berkata“Maafkan aku, sudah bertanya seperti ini nad”
      “Sudahlah lupakan semua apa yang kau lakukan ini sudah benar, engkau telah mengingatkanku. Dan aku harus lebih berhati-hati dengan perasaan ini.
Purnama pertama ketika aku berada jauh disini bersama sahabatku, tapi aku sangat senang menjalaninya.

Komentar