SEPARUH HATI



Melodi kasih mengalun indah, memecah kesunyian, menghempas kerinduan.
Nada-nada kasih terbawa oleh angin kebahagiaan saat cinta mulai mengembang.
Harmoni tersusun rapi dalam sebuah nada cinta,
tercipta syair kerinduan kepada  sang pujangga.
Tetapi hati enggan untuk menyanyikan alunan cinta yang terpendam.

            “Engkau masih ingat jalan ke pantai ini, ku kira kau tidak akan ingat jalan untuk kembali lagi” seketika suara itu muncul dari belakang. Bayangan nya terlihat dari samping karena sinar matahari yang menerpa. Suaranya tak asing lagi di telinganya, dia berjalan ke arah samping. Rosi masih belum menjawab pertanyaan itu, diam dan terpaku.
            Dia pun berkata lagi“Tempat yang sama ketika engkau pamit untuk pergi, tanpa basa-basi. Tapi tenang saja pantai ini tidak berubah setelah engkau pergi.” Sambil berjalan mendekati rosi,dia berusaha bersikap tenang dan berusaha menguasai dirinya.
            “Aku tidak seperti itu, semua ini karena keinginanku sendiri. Jadi engkau tidak berhak berbicara seperti itu. Dan juga kenapa kau tahu aku ada disini?” Suara lembut rosi keluar dari mulutnya secara tiba-tiba. Dia kemudian berdiri,sambil melihat sekeliling pantai. Pantai ini pun seolah ikut berbicara, menggambarkan semua keadaan yang terjadi pada saat itu.
            “Baiklah, engkau masih saja keras kepala seperti dulu. Engkau tidak perlu tahu darimana aku tahu engkau ada disini. Bila hati mu telah dingin engkau bisa ceritakan semuanya padaku.” Jawab Ferdi dengan tegas.

Setelah Rosi kembali ke rumah dia langsung menuju kamarnya, ia mencari-cari sesuatu ternyata itu adalah sebuah foto dia bersama ferdi. Tiga tahun yang lalu ketika di bangku SMA, kedekatan mereka mengalahkan seorang adik dan kakak. Sulit rasanya bila membayangkan itu semua, tapi kini semuanya telah berubah semenjak Rosi tak lagi mempunyai perasaan yang sama saat dulu dia dianggap menjadi seorang adik. Kini dia memiliki perasaan yang tidak hanya sebagai seorang adik kepada Ferdi, mungkin karena kebersamaan mereka yang menyebabkan perasaan itu datang.
            Hari semakin gelap, Rosi tak menyadari akan hal itu karena sejak tadi ia ketiduran dikamarnya.
            “Rosi...Nak ayo keluar, ibu sudah memasakkan makanan kesukaan kamu.” Teriak Bunda Rosi dari ruang makan.
            Teriakan ibunya membangunkan Rosi yang tertidur lelap, bergegas ia bangkit dari tidurnya dan menghampiri ibunya di meja makan.
            “Heeemmm...harumnya..Bunda hari ini masak banyak sekali,Ayah mana?” menarik kursi sambil mengambil piring di meja.
            “Hari ini bunda masakin spesial buat kamu, ayah lagi ke kamar mandi. Ya sudah ayo cepat makan, habis itu langsung mandi” jawab bunda sambil mengambilkan nasi ke piring Rosi. Tidak lama kemudian Ayah Rosi pun datang, dia terlihat sangat bahagia sekali dengan senyum yang terpancar dari wajahnya, sambil menghampiri meja makan.
            “Hai Ayah.. ayo kita makan.” Sahut Rosi dengan nada gembira.
            “Ya nak.. ayah sudah nggak tahan lagi sama harumnya. Ayo bun kita makan.” Kata Ayah rosi.
            “Ya... oh ya nak nanti setelah mandi tolong anterin sayur ini ya ke Nak Ferdi, sayang kalau di buang lagian ini juga banyak banget bunda buatnya. Katanya Ayah sama Ibunya lagi pergi, siapa tau kan dia nggak punya sayur buat makan malam.” Kata Bunda.
            Rosi pun terkejut, dan mendadak batuk. Dia pun langsung meminum air yang ada di atas meja dan menjawab. “ Eeem. Ii iiya Bunda.” Jawabnya dengan terbata-bata. Pikirnya, mengapa dia menjawab iya padahal dia tidak mau lagi berurusan dengan Ferdi lagi. Tapi demi bundanya dia terpaksa menjawab iya.
            Setelah dia membersihkan diri, Rosi pun bergegas untuk mengantarkan makanan yang disuruh ibunya.
            “Assalamualaikum.” Sambil mengetuk pintu rumah Ferdi. Dia memperhatikan sekeliling rumahnya yang begitu gelap tanpa penerangan. Dan dinginnya malam yang menusuk tulang membuat ia merapatkan tangannya ke badan.
            “Waalaikum sallam” Ferdi terkejut melihat dari belakang yang datang itu rupanya Rosi. Dia melihat Rosi tengah kedinginan di luar.
            “Rosi, sedang apa malam-malam begini. Udara sangat dingin di luar ayo masuk.” Tanya Ferdi sambil mempersilakan rosi masuk.
            “Terima kasih, ini bunda nyuruh nganterin makanan buat kamu. Ya udah kalau begitu saya langsung pamit pulang. Assalamualaikum” jawab Rosi dengan nada datar. Dan ekspresi yang menunjukan kekesalan. Sambil menyerahkan bingkisan yang ada di tangannya.
            “Tta...tapi Ros.” Belum selesai Ferdi bicara,Rosi langsung beranjak dari tempat itu dan berjalan di kegelapan malam.
             Tapi Ferdi tidak bisa membiarkan Rosi berjalan sendirian di malam hari,ia langsung menyusulnya.
            “Rosi.. berhenti” ujar Ferdi sambil berlari menyusul Rosi.
            “Tunggu.” Sambil menarik tangan Rosi  dia berkata “ Sebenarnya apa salah aku ke kamu, oke...oke ..kalau aku ada salah ,aku minta maaf. Tapi sikap kamu ini sudah keterlaluan, aku tidak bisa diam saja kamu bersikap seperti ini ke aku.” Dengan nafas yang terengah-engah. Ferdi mencoba menjelaskan.
            Rosi pun berbalik badan dan langsung berkata”Ya kamu salah, kamu bisa cari sendiri kesalahan kamu.” Rosi menjawab dengan ketusnya. Dan melepaskan tangannya yang sedang di pegang oleh Ferdi. Kemudian langsung pergi.
            “Tapi... Rosi...Rosi. tunggu, oke, oke aku minta maaf kalau kesalahanku membuatmu marah. tapi apa salahku sehingga membuatmu semarah ini kepadaku.” Ferdi berusaha menjelaskan dan minta maaf kepada Rosi.
            Rosi memandang Ferdi dengan mata yang berkaca-kaca ”Iya ...kamu memang salah, kamu salah, karena kamu pergi tanpa memberitahuku. Dan sekarang kamu bertanya kenapa kamu salah. Sekarang jangan pernah bicara denganku lagi, pergi saja... pergi yang jauh dari kehidupanku.” Rosi langsung pergi dari hadapan Ferdi dan berlari. Air mata Rosi mulai berjatuhan dan tidak bisa dibendung lagi  ia berusaha untuk kuat tapi ia tak kuasa menahan kesedihannya.
            Ferdi diam seketika, mendengar perkataan Rosi. Ia baru menyadari bahwa kepergiannya itu sungguh sangat berarti bagi Rosi. Kepergian  Ferdi ke jogja memang tidak diketahui oleh Rosi, karena pada waktu itu kakeknya mendadak sakit. Jadi ia tidak sempat untuk mengabari Rosi bahwa ia akan pergi ke jogja mengunjungi kakeknya. Karena ia cukup lama berada di sana dan tes untuk masuk perguruan tinggi telah dibuka akhirnya Ferdi mendaftarkan diri di universitas yang ada di jogja. Tetapi ia teringat kembali bahwa ia pernah mengirimkan surat untuk Rosi, yang bertuliskan permohonan maaf kepada Rosi bahwa ia tidak sempat memberitahu nya, bahwa ia akan pergi. Apa surat itu tidak sampai ke tangan Rosi. Ferdi mengingat-ingat kembali, ia harus meyakinkan Rosi bahwa ia telah mengirim surat untuknya. Agar kesalah pahaman ini tidak terjadi berlarut-larut.
Pagi-pagi sekali Ferdi berniat pergi ke rumah Rosi, seperti biasa ia melewati jalanan kota palembang, tetapi tidak biasanya hari ini jalan terlihat ramai. Dan juga terlihat banyak orang berkumpul di tepi kanan jalan. Ferdi pun memarkirkan motornya di pinggir jalan. Ia semakin penasaran, dengan langsung menghampiri dan langsung bertanya orang di sekitar lokasi. Ternyata ada kecelakaan yang terjadi  pagi itu, namun ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa korban kecelakaan itu. Ia berusaha masuk di tengah keramaian warga, ia pun terkejut ternyata korban kecelakaan itu ternyata Rosi. Kerudung Rosi berlumuran darah,ia langsung mengangkatnya ke mobil dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Sudah lebih 1 jam Rosi belum sadar juga, Ferdi semakin panik begitu pula bunda Rosi. Dokter masih belum keluar dari ruang rawat,Ferdi terlihat mondar-mandir di depan pintu UGD, ia merasa bersalah dengan kejadian malam itu. Dia tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya kepada Rosi bahwa ia menulis surat untuknya. Akhirnya dokter pun keluar dari ruangan dan berkata”Pasien sudah sadar silakan bapak dan ibu bisa masuk” Ferdi dan Bunda Rosi pun masuk, mereka melihat Rosi yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
“Rosi” suara yang tak asing lagi bagi Rosi itu kembali terdengar.
“Untuk apa lagi kau datang ke sini, sebaiknya engkau pergi dari sini... cepat pergi...bunda tolong usir dia dari sini bun..uhuk..huk”sentak Rosi berkata seraya menggerakan jari telunjuk nya ke arah Ferdi.
Beberapa hari kemudian, keadaan Rosi semakin membaik. Ia pun di bawa pulang, berharap kondisinya akan lebih pulih bila berada di rumah. Ternyata benar suasana rumah memang membuat Rosi semakin sehat. Disaat Bunda Rosi sedang membersihkan kamar Rosi, Bunda menemukan secarik kertas dari bawah tempat tidur. Yang tidak sengaja tersapu oleh Bunda Rosi. Ia langsung memberikan kertas itu ke Rosi. Rosi langsung membuka kertas itu dan ternyata berisi surat dengan kertas yang berwarna merah. Rosi terkejut ternyata selama ini Ferdi memberi kabar bahwa ia akan pergi, dan surat ini baru dia baca setelah satu tahun yang lalu. Ia langsung beranjak dari tempat tidurnya,dan langsung keluar dari rumah menuju rumah Ferdi.
 “tok...tok..tok” Rosi mengetuk pintu sambil mengintip melalui jendela, namun tidak terlihat siapapun di dalam. Berulang kali ia mengetuk pintu tapi tetap saja tidak ada yang menyahut. Ia pun bertanya dengan tetangga samping rumah Ferdi, ia berkata bahwa Ferdi akan pergi ke jogja. Karena kakeknya tiba-tiba jatuh sakit. Kini Ferdi ada di bandara, Rosi pun bergegas pulang ke rumah dan mengambil mobil. Mobil yang ia kendarai melaju sangat cepat. Sesampainya di bandara ia berusaha mencari-cari Ferdi, tetapi ia tidak menemukannya. Sudah 1 jam lebih ia mengelilingi bandara dan belum juga bertemu.
“Permisi pak, pesawat jurusan jogjakarta apakah sudah berangkat?” tanyaku.
“Oh,pesawat keberangkatan menuju jogja sudah 1 jam yang lalu dek.” Jawab salah seorang pegawai di bandara.

Pagi itu pukul 06:15 Rosi telah beranjak dari tempat tidurnya, tak lama kemudian ibunya memanggil. Suaranya terdengar dari arah ruang tamu.
“Rosi...sayang, sini nak ada surat untukmu. Tapi tidak ada keterangan nama pengirimnya mungkin ada di dalamnya. Coba kamu buka”  bunda memberikan selembar surat putih itu kepadaku.
Hati Rosi merasa sangat terpukul sekali, ini yang kedua kalinya Ferdi pergi meninggalkannya. Kini Rosi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya pasrah dan menerima kepergiannya.  Tetapi kata-kata yang dikirim ferdi membuat nya sedikit tenang karena kini ia tahu, bahwa Hatinya kini tidak separuh lagi. Bahwa ada hati lain yang bersedia bersanding dengannya.
Beberapa tahun berlalu, Suatu hari ketika ia dan keluarganya sedang duduk santai diruang tamu, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar. Ternyata ada seseorang datang kerumah, ia berpakaian rapi sambil membawa sebuah bingkisan. Tetapi kenapa ia bersalaman dengan Ayah nya Rosi.
Ia mendengar sedikit perbincangan dari Ayahnya itu. Ternyata ia ingin dijodohkan dengan seorang pemuda pilihan Ayahnya. Dan pihak dari laki-laki sudah mempersiapkan lamarannya untuk Rosi. Namun ia langsung menolak niat baik Ayah nya itu, ketika orang yang berbincang dengan ayahnya itu memanggil anaknya. Rosi langsung terkejut ternyata itu adalah Ferdi, ia langsung berdiri dari tempat duduknya. Ferdi langsung menyalami ayah dan ibu Rosi. Ia tidak menyangka bahwa yang ingin melamarnya ialah Ferdi, orang yang selama ini ia tunggu kedatangannya. Kini hati keduanya telah dipersatukan dengan ikatan yang halal, Rosi mengerti mengapa kejadian ini harus terjadi. Karena ia tahu bahwa bila Ferdi mengungkapkan cintanya, dan Rosi tidak marah padanya. Maka tidak berkemungkinan mereka akan berpacaran, dan oleh karena itu tuhan mengatur agar Rosi marah kepada Ferdi. Agar Rosi bisa mendapatkan cinta Ferdi yang sesungguhnya, dan separuh hati Rosi yang hilang kini disatukan kembali dengan ikatan yang di ridhoiNya. 



Komentar