TANGISAN ALAM
Semilir
angin menggulung, membawa dingin yang menusuk tulang
memecah
kesunyian.
Hujan masih saja mengguyur
desa ini dengan begitu derasnya, bila hujan ini tak berhenti bisa saja akan
terjadi banjir. Pepohonan yang tumbang di kanan kiri jalan, karena hembusan
angin yang begitu derasnya. Akar pohon tak mampu lagi untuk menahan terpaan
angin, disertai dengan gemuruh air bah dari sungai seberang. Desa kami sudah
sering dilanda banjir, beberapa tahun yang lalu. Dan juga mengakibatkan bibi
sani meninggal, beliau adalah adik dari ibu, bibi sani tidak tertolong ketika
banjir tahun lalu. Kami sekeluarga diminta untuk mengungsi ke tempat yang lebih
tinggi, waktu itu sofi belum lahir dan aku masih kecil. Aku di gendong oleh ibu,
dan ayah membawa tas yang berisikan baju.
Pada saat itu air sudah
mulai naik hingga lutut orang dewasa, tangan ibu di pegang oleh ayah dan ibu
memelukku dengan sangat erat. Perjalanan menuju bukit cukup dekat sehingga
memudahkan kami untuk sampai ke sana. Setelah sampai di bukit dan ayah baru
menyadari bahwa bibi sani masih berada dirumah. Bibi sani sedang mengemasi
barangnya, tetapi takdir berkata lain bendungan yang berada di ujung desa tak
kuat lagi menahan derasnya air dari muara sungai, air bah yang datang dari seberang
mulai menyapu desa kecilku dan bibi sani. Ibu menangis histeris, tetapi
berulang kali ayah mencoba untuk menenangkannya. Hingga saat ini ibu masih saja
trauma akibat banjir yang melanda tahun lalu. Ia tidak ingin kejadian itu
terulang
Aku, ibu dan Sofi adik
kecilku masih menggigil akibat dinginnya angin sore itu. Terdengar suara ayam berkotek
dari kandang samping rumah karena kedinginan dan adapula yang sudah bertengger
tergeletak di tanah tak bernyawa. Sejak
pagi tadi, ayah juga belum pulang dari ladang, ibu semakin cemas karena sebelum
pergi ke ladang ayah belum makan sedikit pun. Pagi tadi hujan memang belum
terlalu deras seperti sekarang, sehingga ayah bisa pergi ke ladang untuk
melihat ubi yang ditanam beberapa hari yang lalu. Bila sudah bisa di panen ubi
ini bisa dijual separuh dan sisanya bisa dimakan sendiri.
Beberapa ubi sisa penjualan
beberapa minggu lalu masih tersisa, ibu menyalakan perapian di tengah
dingginnya angin yang melanda. Sofi masih saja menggigil kedinginan sambil
memeluk boneka kecilnya, ia termenung sambil memandangi ubi yang di rebus oleh
ibu. Sofi seolah benar-benar mengerti keadaan yang dialami oleh ayah dan ibu,
pernah juga kami ketika akan pergi ke sekolah dalam keadaan hujan Sofi tidak
patah semangat untuk pergi ke sekolah. Adik kecilku yang masih berusia 9 tahun ini sangat mengerti
bagaimana keadaan ayah dan ibu. Kini ia duduk di kelas 3 sekolah dasar. Berbeda
dengan diriku yang sudah satu tahun memutuskan untuk berhenti bersekolah.
Karena pada waktu itu berbarengan juga dengan musim paceklik, ayah tidak punya
uang untukk menyekolahkanku.
Akhirnya aku memutuskan
untuk berhentii sekolah, dan saat ini aku ingin Sofi bisa bersekolah setinggi
mungkin untuk mewakili cita-cita ku. Ia selalu menuruti perkataan ayah dan ibu,
pernah seketika akan pergi ke sekolah tiba-tiba hujan turun, namun Ia ingin
tetap pergi waupun dengan tas yang dibungkus dengan plastik. karena kami tidak
mempunyai payung untuk melindungi tubuh serta buku yang ada di tas milikku dan
sofi. Seringkali ayah juga ikut mengantar kami ke sekolah jarak dari rumah ke
sekolah juga cukup jauh. Seringkali ibu menasihati agar Sofi Ayah dan kami
menggunakan daun pisang untuk melindung sofi dari guyuran air hujan.
Desa kami memang sedang
dilanda musim hujan, tak jarang juga para petani merasakan akibatnya. Hasil
perkebunan juga sering kali terancam gagal panen karena terlalu sering terguyur
oleh air hujan, akibatnya banyak para petani yang kebingungan bagaimana nasib
mereka bila hasil ladang tidak bisa di panen. Karena hanya hasil ladang lah
yang bisa membeantu perekonomian mereka, kebanyakan warga desa hanya memiliki
keahlian mengolah lahan pertanian. Setimpal dengan pendidikan yang mereka
tempuh kebanyakan hanya berbekal rapot sekolah dasar. Ubi yang ibu rebus masih
saja belum matang apalagi dinginya angin sore ini membuat perutku semakin lapar. Aku melihat sofi
memegangi perutnya ia tak berani bicara pada ibu, sejak pagi tagi kami memang
belum makan apa-apa. Hari ini Sofi juga tidak
pergi ke sekolah karena ibu melarang keras sofi, hujan yang tidak
berhenti, air sungai akan meluap dan tidak berkemungkinan akan terjadi banjir.
Penjelasan yang panjang dari ibu akhirnya bisa meyakinkan Sofi untuk tidak
pergi ke sekolah dulu. Guru di sekolah juga akan mengerti dengan keadaan yang
dialaminya sekarang.
“Bu, kenapa Ayah belum
pulang. Apa Ayah baik-baik saja” tiba-tiba perkataan keluar dari mulut Sofi.
Kulihat ibu terdiam
sebentar sambil melihat rebusan ubi di panci.
“Iya ayahmu pasti
baik-baik saja, kamu tenang saja. Sekarang ubinya sudah matang,ayo kita makan.”
Jawab ibu dengan nada datar. Aku tahu bahwa ibu sangat mencemaskan ayah, aku
tidak tega memakan ubi ini tanpa ayah. Entah ia kelaparan atau kedinginan kami
tidak tahu, tetapi ibu mencoba terlihat tegar di depan sofi.
Ketika kami sedang
berbincang-bincang tak lama kemudian terdengar suara panggilan dari luar.
“Buk marti,,buk marti “
teriak seseorang dari luar sambil mengetuk pintu dengan begitu kerasnya.
Ibu pun menjadi panik
juga mendengar suara yang begitu kerasnya dari luar. Ibu bergegas keluar, aku
mengikuti ibu dari belakang dan sofi aku biarkan berada di dapur.
Ibu membuka pintu
dengan perlahan. Ternyata itu adalah ibu nena tetangga sebelah kanan rumah.
“ Bu marti... saya mau
pinjam tangga nya. Ada ranting pohon yang menimpa rumah dan menyangkut di kabel
listrik. Saya dan suami khawatir bila tidak dipindahkan akan terjadi gangguan
dan terjadi kebakaran.” Ujar bu nena dengan nafas yang terengah-engah.
“Oh ya bu
silakan...silakan, tangga nya ada di samping rumah silakan bisa ambil sendiri
saya tidak kuat bila harus mengangkatnya.”kata Ibu
“Ya nanti suami saya
yang mengangkatnya, terima kasih ya bu. Saya permisi dulu” kata bu nena sambil
bergegas pergi dan memanggil suaminya untuk mengangkat tangga yang ada di
samping rumah. Rasa tolong-menolog di desa ini memang masih sangat kental,
ketika keluarga kami kesulitan ada saja warga yang membuka tangan untuk
membantu. Dan begitu pula dengan kami, tidak segan membantu siapa saja yang
membutuhkan bantuan.
...
Rintihan senja menyapa dari balik
tirai kehidupan.
Melambai-lambai di tengah
kesedihan.
Penghuni bumi tak berdosa merasakan
kepedihan akibat tangisan alam.
Sudah menjadi kebiasaan
bila hari hujan, ranting-ranting pohon yang berusia tua disamping rumah kapan
saja bisa tumbang. Terkadang tidak hanya rantingnya yang jatuh bahkan pohonnya
pun kapan saja bisa menimpa siapa saja
yang ada di bawahnya. Ibu masuk kembali sambil menutup pintu, ia kembali ke
dapur. Kulihat sofi masih asik dengan ubi rebus dan boneka usangnya. Aku
mengambil satu ubi rebus di panci dan di susul lagi dengan sofi, ini yang kedua
kalinya ia mengambil ubi rebus. Tampaknya ia sangat kelaparan, tetapi ibu dari
tadi tidak menyentuh sedikitpun ubi ini. Ibu terlihat masih saja merenung, aku
tahu bahwa ibu masih terpikir dengan ayah. Ibu bicara padaku, bahwa ia ingin
menyusul ayah di ladang ia sangat khawatir bila terjadi sesuatu pada ayah.
Tetapi aku melarang ibu karena hujan di luar tampak semakin deras. Ibu
menyisakan beberapa ubi rebus di piring untuk ayah, tiba-tiba terdengar kembali
suara ribut dari luar. Dan diselingi dengan bunyi kentongan yang di pukul warga
“BANJIR...BANJIR..BANJIR”
terdengar suara dari depan dan samping rumah dan bunyi kentongan warga pun ikut
bersahutan. Kulihat ibu semakin panik, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai
anak yang paling tua aku harus melakukan sesuatu, apalagi ayah belum juga
pulang. Aku beranjak dari tempat duduk lalu mengemasi barang-barang, pertama
baju milik aku dan sofi kemudian di susul dengan baju milik ibu dan ayah.
Semuanya ku masukan ke dalam kain sarung milik ayah dan ku ikat dengan erat.
Barang-barang yang ada di dapur tidak ku bawa, kulihat sofi kebingungan melihat
ibu panik. Terbayang-bayang kejadian satu tahun silam.
“Apa yang kau lakukan
Rehan, kita tunggu ayah pulang?” tanya ibu sambil memperhatikanku mengemas
barang-barang.
Aku tidak memperdulikan
pertanyaan ibu, air sudah mulai sedikit-sedikit masuk ke dalam rumah. Tangan
sofi ku tarik dengan tangan kiri ku dan langsung ku gendong tangan kananku
memegang bungkusan yang berisi baju.
“Ayo bu kita keluar,
air sudah semakin naik. Kita harus naik ke bukit bila kita semakin lama di sini
air akan menyapu rumah kita. Aku yakin Ayah akan baik-baik saja” aku berusaha
meyakinkan ibu untuk meninggalkan rumah, akhirnya ia pun mau ku ajak keluar
rumah dan beranjak dari tempat duduknya.
Ku buka pintu dengan perlahan, terasa angin
yang begitu derasnya dengan mudahnya air masuk ke dalam rumah. Air sudah
setinggi lututku, sofi memegang pundakku dengan erat. Aku pun semakin erat pula
menggendong sofi, begitu pula dengan ibu. Gemuruh air dari seberang desa
terdengar sangat mengerikan, aku mempercepat langkahku. Warga desa juga sudah
banyak yang berlari kesana kemari, tetapi terlihat kepala desa mengarahkan
warga untuk naik ke bukit yang tidak jauh dari desa kami.
“Ayo bu cepat”
“Bu marti ayo cepat
bawa anak-anak ke bukit, tanggul tidak bisa menahan air dari muara sungai. ” seru pak kepala desa, sambil
melambai-lambaikan tangannya ke arah kami.
“ Ya pak.” Jawabku.
Ibu masih saja terdiam sejak tadi, ia
masih memikirkan ayah mengapa ia belum juga kembali. Di tengah perjalanan ke
bukit kami bertemu para warga yanng juga akan pergi ke sana, ada yang membawa
beberapa hewan ternak dan bungkusan kain di tangannya. Selang beberapa lama kami
pun sampai di bukit tempat kami mengungsi. Sesampainya disana aku melihat warga
yang lain, tetapi aku tak melihat ayah disini.
Ibu semakin terlihat panik, ia mencoba menengok kesana kemari berharap
ayah akan datang dengan keadaan yang baik-baik saja tanpa luka sedikitpun. Air
sudah menyapu setengah dari desa kami dengan begitu derasnya, tanpa
meninggalkan bekas. Warga yang lain juga terlihat sangat panik, bagaimana rumah
mereka,bagaimana hasil ladang mereka, bagaimana kelangsungan hidup mereka
nantinya. Terlihat Kepala desa pun sibuk
mengarahkan warga nya untuk segera naik ke tanggul.
Tiba-tiba
saja ibu menghampirinya, dengan rasa cemas yang masih menggelayuti.
“Pak,
tolong cari suami saya sejak pagi tadi ia belum pulang dari ladang. Saya takut
bila terjadi sesuatu padanya.” Tanya ibu. Sambil menggendong sofi aku langsung
menghampiri ibu.
“Ya
bu Marti saya dan bersama para warga akan berusaha semaksimal mungkin untuk
mencari pak akhsin, air datang secara tiba-tiba dengan derasnya. Karena tanggul
di desa bedengan ini tidak kuat lagi menahan debit air. Bu marti tenang saja,
dan ajak anak-anak untuk istirahat.” Ujar kepala desa sambil berusaha
menenangkan ibu.
Sementara
itu tidak beberapa lama terdengar suara teriakan dari arah aliran banjir.
“Tolong...tolong...tolong”
teriakan itu mula-mula keras kemudian lama kelamaan semakin perlahan dan hilang
lalu terdengar kembali.
Beberapa
warga melihat seseorang melambai-lambaikan tangan.
“Itu
pak akhsin,siapa saja yang pandai berenang tolong dia.” Terdengar suara dari
arah kanan. Lalu kemudian kepala desa memerintahkan beberapa orang berbadan
tegap dan besar untuk terjun ke aliran
banjir yang melanda. Setelah berusaha dengan sekuat tenaga akhirnya warga yang
hanyut itu bisa di bawa ke atas tanggul dengan keadaan selamat. Ayah terliihat
sangat lemas, kakinya berlumuran darah mungkin karena tersandung ketika sedang
menyelam. Kepala desa mencoba menyadarkan ayah, tetapi air yang ayah minum
terlalu banyak sehingga membuat ayah tak sadarkan diri. Selang beberapa lama
akhirnya ayah pun sadar, perkataannya masih terbata-bata.
“Ayah,rumah
kita yah. Semua barang-barang kita tak sempat aku bawa, hanya beberapa baju
yang bisa ku bawa” ujar Rehan kepada ayahnya.
“Tidak
apa-apa nak, yang engkau lakukan itu sudah benar yang penting engkau,ibu dan
adikmu selamat. Harta bisa kita cari nantinya” perlahan ayah menyadarkan
tubuhnya di bawah pohon besar di tanggul.
...
Matahari kehidupan mulai menampakan sinarnya,
mengobati luka, melepas letih.
Memecah hening melalui sinar surya yang
muncul naik ke permukaan membawa kehangatan
Ibu
masih terdiam, kejadian yang terulang persis setahun silam. Tak beberapa lama
kemudian hujan menjadi reda, terlihat dari kejauhan terdapat beberapa perahu
melintas di aliran banjir. Dan kemudian mereka naik ke tanggul, rupanya mereka
dari PMI (palang merah indonesia) dengan sigap mereka naik ke tanggul sambil
membawa beberapa kotak P3K. Beberapa warga mendapatkan pengobatan termasuk juga
ayah. Para korban banjir pun mendapat beberapa bahan makanan, dan disediakan
pula tenda-tenda untuk beristirahat. Hingga menunggu air surut.

Komentar
Posting Komentar