Surat dari Rantau
Surat dari Rantau
Hujan
masih belum berhenti semenjak satu jam yang lalu ketika aku berada di loket bis ini, lalu lalang orang
berlari untuk mencari tempat berteduh. Di sisi kanan jalan Bus yang akan aku
naiki sudah siap disana, hanya saja keberangkatan di tunda hingga pukul 10
tepat karena hujan turun dengan sangat lebat. Syukurlah aku bisa sampai di
loket sebelum hujan turun dan jika tidak maka semua barang-barang ku akan basah
terkena guyuran air hujan. Hingga saat ini hujan semakin deras dan di sertai
angin yang kencang. Kami para penumpang sempat memindahkan barang kami yang berada
di luar loket , hujan yang terbawa angin mudah masuk dengan mudahnya karena
tidak ada penghalang di bagian atas tempat kami menunggu.
Di
kursi tempat aku duduk lebih tepatnya di samping kiri dan di depanku ada lelaki
paruh baya yang sedang menghisap cerutunya dengan santainya, seketika saat itu
juga aku batuk karena yang tidak biasa menghirup asap rokok yang sangat
mengganggu itu. Jika aku mencegahnya pasti ini tidak akan baik nantinya, maka
solusi terakhir aku pindah ke kursi lain yang masih kosong.
Tidak
ada yang salah dengan hujan, turun dengan semua karunia dariNya, aku tidak
boleh menyalahkan hujan hanya karena aku ingin pulang. Untuk sekarang aku hanya
perlu bersabar dengan hujan, menitipkan doa di sela tetes airnya untuk orang
yang paling aku sayang. Yang sedang menanti di rumah dengan segala curahan
kasih sayangnya. Kini mungkin ia tengah khawatir denganku dari semua yang aku
lakukan tanpa memberinya sedikit pengertian. Ia memang sangat menyayangiku
sepenuh hatinya, mungkin jika bisa melakukan sesuatu ia akan memberikan
nyawanya demi diriku. Surat yang dikirimkan dua hari yang lalu yang membawaku
ingin sekali untuk pulang ke rumah.
Meski
hujan belum berhenti, Bus akan tetap berangkat pagi ini dari bengkulu ke
palembang, jarak yang cukup dekat memudahkan ku untuk pergi dan pulang hanya
sendiri saja, delapan jam di perjalanan terasa sangat singkat rasanya kali ini
dan mungkin karena suasana hujan yang sangat sejuk membuat perjalanan ini
semakin cepat. Entah bagaimana aku tidak tahu jika Bus ini telah sampai di
tempat tujuanku, dengan beberapa barang aku segera turun dari Bus. Tidak lama kemudian aku
dijemput oleh ayahku di loket Bus. Hal biasa bila seorang anak yang tengah
pulang kampung dan dijemput oleh ayahnya dengan sangat bahagia, bahkan senyuman
bahagia itu salah satu hal yang membuatku selalu bersemangat untuk belajar di
kampus.
“Apa
kau sudah makan? Ayo makan dulu, ibu sudah membuatkan makanan kesukaanmu” tak
terlihat rasa letih di wajahnya, entah bagaimana ia masih saja terlihat tegar
di depan anaknya meski sebenarnya sangat lelah. Wajahnya yang menyimpan sejuta
misteri dalam hidupnya itu tak bisa di tutupi dari rona mata nya yang terlihat
sayu nampaknya.
“iya
bu, terima kasih. Ibu istirahat saja nanti aku akan makan” meski aku tahu bahwa
ia tidak pernah makan sebelum anak dan suaminya makan terlebih dahulu, yah..ia
selalu mendahuluan orang lain lebih dari dirinya sendiri.
Cita-cita
sederhana seorang gadis desa yang berusaha untuk terus berbagi kebaikan dan
bermanfaat untuk orang di sekitarnya, liburan kali ini tidak boleh ku sia-sia
kan. Aku akan melakukan suatu hal yang bisa membantu sedikit perubahan di desa
ini. Dua hari semenjak aku kembali ke sini, kenapa tidak terdengar azan di
setiap waktu sholat. Apa tidak ada laki-laki yang merelakan waktunya untuk
datang ke masjid dan menyumbangkan sedikit suaranya untuk azan. Ini memang
tidak masuk akal, tapi fenomena ini terjadi di desaku tanpa ada yang
memperhatikan sedikitpun. Akhhirnya aku berniat dengan mulai untuk mengajar
anak-anak untuk mengaji, dengan begitu pasti ada salah satu dari mereka yang
mau untuk azan.
Waktu
berselang satu minggu rutinitas ini membuahkan hasil, dan kini masjid menjadi
ramai dan tidak sepi lagi apalagi ditambah keramaian anak-anak yang mengaji aku
rasa ini cukup membantu daya tarik masyarakat untuk pergi ke masjid. Namun
sayang waktu semakin berlalu dan jama’ah masjid yang hadir tidaklah sesuai yang
diharapkan. Mungkin saja hidayah tidak datang pada mereka semua melalui caraku,
pasti ada perantara lain yang bisa membuat mereka bisa dekat kembali dengan
masjid. Liburan yang sangat mengesankan, dengan persoalan ini semakin
meyakinkanku bahwa tugasku sebagai aktivis tidak hanya sampai disini. Masih
banyak orang-orang yag belum mengerti mengenai agama yang mereka anut.
Aku
faham bahwa mengapa aku di ber petunjuk untuk pulang lebih awal di liburan kali
ini, ternyata surat dari rantau telah memanggil ku untuk membalasnya dengan
perbuatanku. Apakah itu berhasil atau tidak, ini akan menjadi momen yang tidak
akan pernah aku lupakan dalam sejarah hidupku.
Singkat
cerita membawaku ke bagian kisah berikutnya, dan pagi ini ibu hendak menyuruhku
pergi ke pasar. Jalanan sejak pagi tadi masih sepi, belum ada kendaraan yang
melintas. Biasanya ketika menjelang siang truk-truk pengangkut kayu lewat di
depan rumah, karena sejak datangnya kontraktor-kontraktor itu semakin membuat
pepohonan di desa kami menjadi sedikit. Kepentingan oknum yang tidak
bertanggung jawab sering kali membuat darahku mendidih, silih berganti pohon di
tebang dengan seenaknya dan membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasakan
hal yang sama.
Berbeda
halnya dengan pasar yang ku datangi, aktivitas pasar sudah ramai dan penuh
dengan penjual yang menawarkan dagangan mereka. Tiba-tiba..
“Ra”
panggilan keras dari arah samping, wajahnya tampak tak asing bagiku. Mungkin
ini yang ke sekian kali aku lupa mengenali wajah seseorang, namun semakin dekat
bayang-bayang nya pun semakin jelas di mataku. Jarang memang orang memanggilku
dengan nama kecilku, kecuali sahabat-sahabat terbaikku dan orang itu adalah
beliau.
“Dani,
apa yang kau lakukan disini dan bukankah kau sedang kuliah di jawa? Lalu kenapa
kau ada dipasar?” Rasa heran dan berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku, tak
sabar rasanya mendengar jawaban dari temanku yang satu ini.
Sangat
mengejutkan memang bagiku melihat Tari berada di pasar seperti ini. Karena
setahuku dani anak dari keluarga terpandang dan memiliki segalanya. Ketika
dahulu aku satu SMA dengannya ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya
di pasar yang kumuh dan becek seperti ini, bahkan ketika ia terkena lumpur
ketika berolahraga dan saat itu pula ibunya langsung datang ke sekolah dan
memarahi guru olahraga. Dan mengapa sekarang ia disini? Baju yang sederhana
sambil berjualan sayur-mayur, dani terlihat sangat berbeda dari yang ku kenal
dan bahkan tubuhnya kini pun kurus dengan rona mata sayu. Seolah menjelaskan
bahwa ia ingin keluar dari sini, menyuruhku untuk membawanya pergi dari tempat
ini.
“E..em..iya
Ra, inilah kegiatan ku sekarang di waktu liburan. Oh ya masih banyak hal lain
yang ingin aku ceritakan padamu” ungkapnya lirih sambil melayani pembeli yang
ada di depannya.
Singkat
cerita bersama Danii menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang
abadi. Ayah Tari kini tak lagi seorang pengusaha seperti dahulu, perusahaan nya
yang bangkrut menjadikan Tari ikut andil dalam menjalani usahanya sekarang. Ini
tidak lepas dari permasalahan ayahanda Tari yang semula ikut dalam usaha
investasi dan ternyata itu tidak membuahkan hasil namun berimbas pada aset yang
ayahnya punya ludes karena penipuan.
Komentar
Posting Komentar